Mahfud MD: Perubahan Memang Selalu Datang dari Luar

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat memberi pandangan dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat memberi pandangan dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, turut menjawab penasaran tokoh-tokoh muda atas situasi Indonesia belakangan ini. Salah satunya pertanyaan Tiara Dianita dari The Maple Media tentang Mahfud yang suaranya masih lantang setelah di luar pemerintah.

“Tiara tadi tanya, bagaimana bedanya di dalam dan di luar? Saya tadi memberi jalan, kalau ingin selamat, ketika di dalam harus baik agar sesudah di luar, juga tidak menyampaikan sesuatu yang menjadi kedap,” kata Mahfud dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025).

Tapi, ia membenarkan, dalam praktek kadang orang-orang yang ketika di dalam baik, ketika sudah di luar ditindas. Seperti yang disampaikan Abigail Limuria dari What Is Up Indonesia, memang sekarang tidak penting lagi tua-muda atau junior-senior.

Menjawab pertanyaan Leon Hartono dari The Overpost, Mahfud membagikan pengalaman seorang pensiunan jenderal yang terlibat dalam peredaran gelap narkoba. Setelah ditangkap, ternyata dia ditindas juniornya yang meminta keuntungan dibagi dua.

“Tapi, maksud saya, saling peras itu sekarang sudah menjadi menjadi kelaziman, sehingga kita sulit maju. Itu sebabnya, lalu menjadi stuck,” ujar Mahfud.

Kemudian, Mahfud menanggapi pernyataan Ferry Irwandi dari Malaka Project tentang bisakah orang-orang muda merubah lewat suaranya. Terutama, ketika mereka memilih untuk tetap di luar seperti orang-orang muda hari ini yang bersuara di medsosnya.

“Bisa enggak kita melakukan perubahan dari luar? Mas Ferry, dalam catatan saya, perubahan-perubahan kita itu kalau sudah sangat parah, itu perubahan selalu datang dari luar, melalui operasi sesar, tidak melalui jalan normal,” kata Mahfud.

Salah satu contoh yang bisa dilihat dari sejarah Indonesia tidak lain munculnya Angkatan 66. Mereka lahir atas kondisi rakyat yang sudah tidak kuat lagi menghadapi politik generasi tua yang sangat jumud, korup, tidak peduli, hedonis, dan lainnya.

Lahirlah Angkatan 66 yang akhirnya berhasil menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa. Sayangnya, perubahan yang terjadi hanya sebentar, dan baiknya pemerintahan tidak berlangsung lama. Setelah itu, muncul operasi sesar kedua yang terjadi pada 1998.

“Orang sudah tidak kuat dengan korupsi dan kesewenang-wenangan yang luar biasa, muncul gerakan 98, gerakan dari luar,” ujar Mahfud.

Setelah itu, Mahfud turut merespons usulan Arie Keriting dari Kaks Production soal pentingnya pemuda tidak hanya masuk, tapi menguasai partai politik. Hal itu dirasa penting agar pemuda bisa mengubah sistem yang ada secara langsung dari dalam.

“Itu sudah dilakukan, Mas. Tapi, orang, sesudah di dalam itu menjadi koruptor baru. Lihat saja sekarang, penghuni Cipinang, Penghuni Sukamiskin, itu mereka yang dulu berjuang melawan korupsi. Sesudah masuk, korupsi sendiri,” ujar Mahfud.

Mahfud berharap, operasi sesar semacam itu tidak selalu menjadi modus setiap kali kita ingin mengganti pemerintah. Sebab, Indonesia sebenarnya memiliki budaya adiluhung yang sebenarnya bisa meneggakan demokrasi dan konstitusi yang substantif.

“Mengapa selalu terjadi operasi sesar ketika harus mengganti pemerintahnya, tengkar dulu, lama, tidak selesai, jatuhin. Saya berharap, ini tidak terjadi lagi. Sudah cukup yang sudah-sudah, ke depan kita membangun peradaban baru,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.