Cerita Butet Kartaredjasa Raih Rezeki Berlimpah Saat Tidak Lagi ‘Mencari Rezeki’

Seniman, Butet Kartaredjasa, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (15/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Seniman, Butet Kartaredjasa, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (15/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Seniman, Butet Kartaredjasa, menceritakan momentum dirinya merasa mendapat begitu banyak limpahan rezeki dalam hidup. Uniknya, ia menyampaikan, momen itu didapatkan ketika dirinya tidak menjadikan rezeki sebagai target utama yang harus dikejar.

Ia mengungkapkan, itu semua dimulai sejak dirinya alami sakit sekitar 4 tahun lalu, bahkan sempat alami lumpuh total. Kondisinya yang tidak lagi berdaya diakui Butet malah membuatnya memasrahkan diri kepada Tuhan sampai akhirnya mendapat kesembuhan.

“Sejak sakit itulah saya mendapat kesembuhan yang menurut saya peristiwanya sangat ajaib, dan itulah yang saya sebut sebagai mukjizat. Saya dalam tradisi Katolik itu kan ada apa yang disebut mukjizat, saya merasa mendapatkan mukjizat, sehingga saya dari lumpuh duduk saja tiba-tiba bisa berdiri,” kata Butet kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (15/07/2026).

Butet menuturkan, saat sakit dirinya sempat meminta doa tokoh agama yang kebetulan bukan dari agama yang dianutnya, yaitu Protestan. Butet malah minta doa kepada Romo Sindhunata yang merupakan pemuka Katolik dan Gus Mus yang merupakan pemuka Islam.

“Karena saya waktu itu minta tolong saya didoakan karena saya siap untuk mati. Saya sudah mengikhlaskan diri saya untuk pergi selama-lamanya. Jadi, saya minta doa dari Gus Mus, doa dari Romo Sindunata, saya bisa berdiri dan bisa berjalan,” ujar Butet.

Ia menyebut, kesembuhan yang didapatkannya merupakan keajaiban yang pada akhirnya menyemangati dirinya menjalani hidup. Butet berpendapat, dirinya sudah diberikan kembali kehidupan, sehingga dia harus membuat hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

“Sekarang saya harus membawa kemanfaatan bagi sebanyak-banyaknya orang. Saya sudah tidak mengejar karir diri, saya sudah selesai, saya sudah tidak ingin cari rezeki, rezeki biarlah datang sebagai akibat. Sebelumnya karir diri, ego masih besar dan sebagainya, duit itu penting, setelah itu bagi saya itu akibat saja,” kata Butet.

Bagi Butet, rezeki yang datang merupakan akibat dari dirinya bekerja, sehingga ada keharusnya dirinya mensyukuri berapa saja yang didapatkannya. Uniknya, keikhlasan itu yang dirasa malah mendatangkan begitu banyak limpahan rezeki sampai hari ini.

“Itulah keajaiban, keajaiban semesta, aneh sekali, di luar dugaan saya. Justru, ketika saya tidak punya pamrih, dan itu sesuai dengan tradisi Jawa,” ujar Butet.

Butet mengingatkan, ada banyak nasihat-nasihat leluhur yang memberi pelajaran soal itu. Salah satunya melik nggendong lali yang merupakan falsafah Jawa yang bermakna keinginan yang membawa lupa. Ada pula eling lan waspodo atau ingatlah, waspadalah.

“Ya sudah, berpedoman pada dua itu sampai pada akhirnya, pada akhir 2024 itu saya itu tergerak hati saya untuk melukis Jalan Salib. Ada 14 stasi perjalanan Yesus menuju dari kesengsaraannya menuju puncak kebahagiaannya membebaskan umat manusia,” kata Butet. (WS05)

Temukan kami di Google News.