Perang Dagang AS-China Bisa Beri Potensi Indonesia Perluas Mitra Dagang

Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (04/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (04/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom senior, Halim Alamsyah mengatakan, perang tarif dagang yang terjadi antara AS dan China menghadirkan kondisi baru di global. AS bisa saja memberikan tarif 0 persen seperti yang diberi ke Malaysia dan Vietnam dengan syarat-syarat tertentu.

Dampaknya, banyak negara-negara yang mencari mitra dagang lain. Bagi AS, jika itu dinilai merugikan kepentingan mereka tentu mereka memiliki hak untuk membatalkan perjanjian. Indonesia sendiri sudah menandatangani sejumlah perjanjian perdagangan.

“Perjanjian perdagangan komprehensif istilahnya. Dengan Jepang sudah, dengan Korea, dengan ASEAN ini sudah semua, yang belum ini dengan Eropa sebagai salah satu tujuan ekspor kita yang cukup penting,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (04/12/2025).

Dengan Eropa, Halim melihat, sudah boleh dibilang kalau Indonesia tinggal mendapat persetujuan dari parlemen masing-masing. Tampaknya, ini yang sedang dijadikan satu tumpuan oleh Pemerintah Indonesia yang berharap selesainya negosiasi-negosiasi itu.

“Dengan Eropa khususnya karena banyak produk-produk kita yang kita ekspor juga ke Eropa, terutama CPO yang menjadi bagian dari ekspor kita yang penting,” ujar Halim.

Halim menerangkan, pangsa ekspor Indonesia untuk CPO diharapkan 12-18 persen yang artinya cukup besar. Tentu, ia menekankan, yang paling besar masih batu bara dan mungkin mendekati 20 persen. Lalu, disusun nikel yang masih antara 12-18 persen.

Setelah itu, baru CPO yang mendekati 8-9 persen. Meski begitu, Halim menegaskan, itu menandakan pula kalau CPO tetap cukup penting karena ketiganya ditambah timah dan lain-lain sudah mampu mencapai angka 50 persen dari ekspor non-migas kita.

“Jadi, sangat penting, sangat penting ini CPO ini. Ditambah lagi kebutuhan kita untuk membuat biodiesel, ini menjaga agar harga-harga CPO-nya jadi tetap stabil,” kata Halim.

Soal optimistis, Halim berpendapat, Pemerintah Indonesia memang berharap terjadi peningkatan perjanjian kerja sama di bidang perdagangan dunia. Sebab, ia menilai, keberhasilan itu mampu memberikan pangsa pasar baru Indonesia, terutama Eropa.

“Sebetulnya tidak hanya Eropa kan, bisa juga ke Afrika atau mungkin ke Middle East, karena Middle East juga mungkin senang juga tuh kalau diberikan CPO,” ujar Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.