Ferry Irwandi Ceritakan Momen Dirinya bersama 500 Pemuda Diajak Masuk Partai Politik

Pegiat media sosial, Ferry Irwandi, saat memberikan pandangan dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pegiat media sosial, Ferry Irwandi, saat memberikan pandangan dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pegiat sosial media, Ferry Irwandi mengungkapkan, dia pernah diajak komika, Arie Keriting, mengajaknya bersama 500 pemuda lain masuk partai politik. Hal itu dalam rangka melakukan perubahan, tidak lagi dari luar, tapi langsung dari dalam sistem.

“Ini fun fact, Bang Arie itu pernah nelfon gue, nggak apa-apa ya cerita, Bang Arie itu pernah nelfon gue, tiba-tiba nggak tau beliau lagi sober atau tidak, gitu ya, tengah malam, Fer gimana kita kalau 500 masuk satu partai politik gitu ya, waduh,” kata Ferry dalam diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media, dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (21/10/2025).

Ferry mengaku kaget karena telfon itu terjadi sekitar jam 02.00 dini hari. Apalagi, ia mengungkapkan, Arie mengajak Ferry memilih secara sembarang saja partai politik mana yang akan dipilih, sehingga mereka bisa melakukan disrupsi dari dalam sistem.

“Cuma gue pikir, oh ternyata bisa loh perubahan dibuat dari luar gitu. Karena kan pada akhirnya balik lagi kalau sudah on the system, ada quote legendaris Pak Mahfud yang sampai sekarang masih, bahkan malaikat pun gitu kan, kalau kita sudah masuk ke dalam sistem ya, apa lagi satu atau dua orang ya sulit,” ujar Ferry.

Tapi, ia menekankan, ada opsi selain bersuara, yaitu perubahan-perubahan yang bisa dilakukan dengan kapasitas luar biasa di internet. Sebab, Ferry mengingatkan, generasi muda memiliki keunggulan lain, yaitu hidup dari internet yang tanpa batas.

Ia berpendapat, sudah saatnya Indonesia didorong dengan cara yang berbeda, termasuk mengontrol dengan cara yang berbeda. Terkait penting tidak pemuda-pemuda Indonesia membuat Kongres seperti Kongres Pemuda dulu, ia merasa, harus jelas dulu luarannya.

“Jadi, gue setuju kalau misalnya ada kongres, tapi ya outputnya jelas, outcomenya jelas, tujuannya jelas, dan manifestonya ada gitu,” kata Ferry.

Ia menekankan, semua itu memang tergantung apa yang mau dicapai dan siapa yang menginisiasi kongres tersebut. Sebab, Ferry merasa, jika Kongres Pemuda dibuat oleh sayap-sayap kepemudaan partai yang memang cukup banyak, tidak ada pula bedanya.

Apalagi, Ferry mengingatkan, hampir setiap pekan kita bisa melihat titel-titel anak muda di setiap acara. Karenanya, ia melihat, esensi jadi sangat penting dan perlu dipikirkan apa yang kita mau, apa yang mau kita tuju, dan apa yang mau kita ubah.

“Seberapa besar kapasitas yang kita punya untuk fight, day after day, after day sampai dari yang kita dari 100 orang jadi 1 orang. Justru, yang saya butuhkan atau yang mungkin kita semua butuhkan adalah kita sudah di stage of level di mana yang kita butuhkan lebih dari sekedar suara, yang kita butuhkan adalah sebuah tindakan yang mendisrupsi sebuah sistem, tindakan yang mendisrupsi sebuah sistem itu apa,” ujar Ferry.

Ia menambahkan, hari ini generasi muda perlu melakukan intervensi pada mekanisme pasar, membuat pemerintah merasa perlu menyesuaikan diri. Sampai akhirnya kesadaran itu muncul dari orang-orang, memaksa regulator harus relevan dengan peradaban kini.

Misalnya, di dunia pendidikan sampai sekarang UKT terus naik, bahkan di perguruan tinggi negeri seperti UI dan UGM. Ferry mengingatkan, mekanisme pasar akan selalu ditentukan investasi-investasi lain karena supply and demand tidak pernah bohong.

“Tapi, kalau ada opsi perguruan tinggi itu bisa kasih 2 juta, 3 juta dengan jaminan mutu yang bagus, pride yang bagus, mau tak mau pasar menyesuaikan diri, kalau nggak mereka yang akan tidak relevan gitu. Artinya we break the system from the outside,” kata Ferry. (WS05)

Temukan kami di Google News.