Abigail Limuria: Percuma Pemuda Dapat Kekuasaan kalau Pemikirannya tidak Representatif

Pegiat media sosial, Abigail Limuria, saat memberikan pandangan dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pegiat media sosial, Abigail Limuria, saat memberikan pandangan dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pegiat media sosial, Abigail Limuria, mengaku tidak setuju ada yang merasa rusaknya Indonesia karena pemuda tidak memiliki kuasa. Sebab, ia merasa, dikotomomi hari ini sudah bukan soal muda-tua karena sebenarnya hari ini pun pemuda yang berkuasa ada.

“Aku tuh sudah capek dengan narasi pemuda, soalnya percuma pemuda dapat kekuasaan, kalau pemikirannya itu tuh nggak representatif. Aku gak peduli yang naik tuh tua, yang naik itu gendernya apa, yang naik itu pendidikannya apa, asal pemikirannya representatif,” kata Abigail dalam diskusi Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (20/10/2025).

Bagi Abigail, betul kita masih harus terus mendorong pemerintah lewat bersuara dan tentu itu tidak akan sia-sia. Tapi, ia mengaku, dirinya sudah di tahap tidak lagi mau bergantung dari itu dan hanya menanti pemerintah bergerak, baru kita berbenah.

“Kita nggak bisa cuma nungguin pemerintah bergerak baru kita mulai benahin diri, baru kita mulai get our lives together, baru kita mulai ngelakuin ABCD. Ya sudah, carve our own corner in the internet aja, kita bikin kehidupan untuk kita sendiri aja, di lingkup-lingkup yang kita bisa lakuin, kita berkarya,” ujar Abigail.

Ia membenarkan, mungkin memang tidak semudah yang dibayangkan dan kita harus terima kalau itu realitanya. Justru, Abigail menekankan, kalau kita ingin apa yang kita lakukan sukses, kita harus mau menerobos tantangan-tantangan yang ada di depan.

Abigil berpendapat, itu bisa jadi skill yang harus kita pelajari sambil menerima realitas kalau kehidupan kebangsaan kita hari ini memang belum sempurna, dan mungkin tidak akan pernah sempurna. Tapi, ia menegaskan, kita harus tetap berusaha.

“Kita harus terima bahwa realitanya sekarang ini belum perfect, tapi kita harus terus berusaha untuk bikin kehidupan yang lebih baik untuk kita dan orang-orang di sekitar kita. Dan, memang biasanya pattern-nya gitu kok, lebih mudah bikin disrupsi dari luar daripada dari dalam, itu yang aku perhatiin,” kata Abigail.

Sebab, ia melihat, kerap kali untuk melakukan disrupsi dari dalam temboknya sudah terlalu banyak. Terlebih, Abigail mengingatkan, sudah banyak orang-orang yang di dalam yang jauh lebih berani, pintar, dan inovatif darinya tapi tidak bisa apa-apa.

Maka itu, jika disrupsi sukses dilakukan dari luar, pemerintah pada akhirnya harus mengadopsi. Baik kurikulumnya, sistemnya, pasti akan didorong mengadopsi dari luar, seperti inovasi-inovasi yang selalu tumbuh dari luar, sebelum diadopsi ke dalam.

“Masih ada harapan, tapi mungkin kita harus ubah strategi. Bukan berarti strategi lama itu sudah tak berguna, itu masih berguna, tapi sudah tak bisa itu doang. Itu aja sih, dan kita pun harus bisa ambil kendali kehidupan dan bikin kehidupan kita lebih baik dengan kerja keras kita juga sendiri, nggak usah nungguin pemerintah,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.