Poerbatjaraka, Tjokroaminoto, sampai Tan Malaka, Begitu Banyak Filosof Dimiliki Indonesia

Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin, dalam program Perspektif 1 on 1 di YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin, dalam program Perspektif 1 on 1 di YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin mengatakan, ada begitu banyak filosof-filosof besar yang dimiliki Indonesia. Penulis buku ‘Dari Athena sampai Nusantara’ itu mengungkapkan, mereka sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Ia memahami, popularitas mereka memang tidak sebesar filosof Yunani, Romawi, Eropa kontemporer, atau filosof Muslim yang sudah dikenal luas di dunia. Tapi, Al Makin mengingatkan, Indonesia sendiri dibangun atas dasar filosofis yang sangat kuat.

“Saya yakin para pendiri bangsa ini filosof. Karena apa? Nama Republik Indonesia itu kan filosofis, republik kan judul bukunya Plato yang Yunani-nya Politeia, yang Arab-nya namanya Madinah, kotanya Nabi Muhammad. Artinya apa? Bahwa para pendiri bangsa itu sadar betul bahwa Indonesia itu didirikan atas dasar filsafat dan disebut demorkrasi,” kata Al Makin kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif 1 on 1 di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/07/2026).

Al Makin tidak menampik pengaruh keberadaan Amerika Serikat (AS) yang menginspirasi bentuk negara yang dipilih Indonesia. Tapi, ia meyakini, itu tidak menyingkirkan keberadaan pemikir-pemikir besar yang sudah ada dan mempengaruhi pendiri bangsa.

“Coba kita baca karya-karya sebelum dan sesudah kemerdekaan awal, terutama sebelum kemerdekaan. Misalnya, kita baca Tjokroaminoto, menulis Islam dan Sosialisme. Kita lihat referensinya Hegel, Karl Marx, dan Sirah (Nabawiyah). Begitu juga Tan Malaka, Madilog itu jelas kembali ke Yunani, dan para filosof pencerahan,” ujar Al Makin.

Pun Ketika kita melihat ‘Dibawah Bendera Revolusi’ karya Bung Karno yang berisikan Immanuel Kant, Rousseau, Montesquieu, Hobbes, atau John Locke. Ada pula buku ‘Alam Pikiran Yunani’ milik Bung Hatta yang mengutip filosof-filosof era pencerahan.

“Artinya, ini sadar dibentuk namanya republik, respublika. Dan ingat, Muhammad Yamin dengan sengaja menerjemahkan prinsip-prinsip Eropa, para filosof klasik, modern, dicocok-cocokkan dengan negara Kertagama dan Sutasoma,” kata Al Makin.

Namun, ia menemukan fakta pahit lain bahwa tidak pernah ada yang menyebut mereka sebagai filosof. Semua itu ditambah generasi-generasi setelahnya tidak lagi membaca dan mengkritisi karya-karya mereka. Itu membuat eksistensi mereka seakan terhenti.

Al Makin melihat, situasi itu membuat seolah Indonesia tidak lekat dengan filsafat, menghilangkan fakta dari para pendiri bangsa sendiri. Dampaknya, Indonesia seperti tidak lekat dengan karya besar seperti Machiavelli, Ernest Renan, dan lain-lain.

“Ada tokoh lain, Poerbatjaraka, kebetulan dia seorang yang mempelajari serat, babat, dan kebetulan bersekolah di Belanda dan mempelajari filologi, sastra secara modern. Dan Poerbatjaraka ini salah satu tokoh yang mencoba membaca Kembali, misal Kakawin Arjuna Wiwaha. Belum kita sebut serat-serat dan babat-babat era Islam, babat Tanah Jawi, serat Dewa Ruchi, serat Centini, ini semua karya filosofis,” ujar Al Makin.

Meski begitu, Al Makin menolak tudingan kalau bangsa ini didirikan tidak atas dasar filosofis karena para pendiri bangsa sadar betul akan itu. Bagi Al Makin, yang jadi masalah tidak ada yang membaca karya-karya mereka, tidak diteruskan ide-ide mereka.

Al Makin menyayangkan, generasi-generasi terkini tidak lagi membaca, mengkritisi, atau menciptakan ide-ide yang lebih baru. Misalnya, Kartini yang hanya dirayakan dengan berpakaian ala Kartini, tidak mengembangkan pikiran-pikiran hebat Kartini.

“Lebih ironi lagi, jangan-jangan kita memang tidak mampu membaca, tidak sampai. Misalnya, salah satu contoh ya karya Soedjatmoko, historiografi Indonesia, manusia Indonesia, dan lain-lain mana kita dengar, terus terang kalau kita buka YouTube atau bahkan keresmian negara kita mana ada yang merujuk ke sana,” kata Al Makin. (WS05)

Temukan kami di Google News.