Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, K.H. Noer Muhammad Iskandar SQ Wafat

Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ashiddiqiyah Jakarta K.H. Noer Muhammad Iskandar SQ. (Foto: Ist)

Pernikahan Tanpa Persiapan

Pria kelahiran Sumber Beras, Banyuwangi, Jawa Timur 5 Juli 1955, ketika usianya memasuki 27 tahun, tepatnya tahun 1982, Allah membukakan jodoh baginya. Kyai Noer Muhammad Iskandar menikah dengan Ibu Hj. Siti Nur Jazilah, putri KH. Mashudi, asal Tumpang, Malang, Jawa Timur. Ibu Hj. Nur Jazilah pernah memimpin pondok pesantren putri Cukir, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Pernikahan ini tanpa persiapan yang matang dan tanpa proses yang panjang. Pernikahan itu berlangsung khidmat. “Saya yakin, pernikahan ini karena memang panggilan Allah. Karena, terjadi ketika saya datang bersilaturahmi ke guru saya Kiai Mahrus Ali. Ia menyarankan agar saya segera menikah. Buat saya yang sudah berusia 27 tahun dikatakan telah wajib untuk menikah,” tutur KH Noer Muhammad Iskandar.

“Perjuangan hidup saya yang masih panjang membutuhkan seorang pendamping yang sejalan. Al hasil, saya menikah lebih banyak didasari pertimbangan nasihat guru. Bagi saya ini sebuah kehormatan dan saya pun mengamininya, Sam’an wa thaatan,” ujarnya yakin.

Bagi KH. Noer Muhammad Iskandar, ada satu nasihat yang diberikan Kiai Mahrus Ali saat memberi khutbah nikah yang sampai sekarang menjadi renungan bagi dirinya, yaitu agar ia tidak kembali ke Banyuwangi atau ke Tumpang. “Saya juga tidak diperkenankan mengabdi di Lirboyo. Inti Nasihatnya saya harus kembali ke Jakarta,” paparnya.

“Sebagai seorang santri, saya dengarkan nasihat itu, meski tanpa bekal persiapan yang matang. Seminggu setelah pernikahan, saya kembali ke Jakarta bersama istri. Saat itu sebetulnya saya tidak siap. Jangankan tempat tinggal, untuk makan sehari-hari pun tidak ada gambaran yang jelas. Karenanya, hari-hari pertama kedatangan kami di Jakarta hanya bergantung pada teman-teman,” ucapnya jujur.

Ketika itu ia hidup dari satu rumah teman ke rumah teman lainnya, dengan alasan ingin memperkenalkan istri kepada teman-teman yang ada di Jakarta. Hampir satu minggu kami berkeliling ke teman-teman. “Akhirnya, kami pun harus memiliki tempat yang tetap setidaknya untuk istri. Dengan sangat terpaksa saya bicara dengan keponakan saya, Dra Marsidah Tahir, meskipun belum berkeluarga, tapi sudah punya kontrakan di Kampung Utan, Ciputat. Di sinilah istri saya titipkan, dengan alasan bisa menemaninya sebagai teman bicara dan berbagi cerita, sementara saya melakukan sesuatu yang bisa saya kerjakan,” kilahnya.

Temukan kami di Google News.