Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, K.H. Noer Muhammad Iskandar SQ Wafat

Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ashiddiqiyah Jakarta K.H. Noer Muhammad Iskandar SQ. (Foto: Ist)

Perjalanan Panjang

Upaya membangun pesantren di ibukota bukan tanpa perjuangan. Perjalanan dan perjuangan panjang pun harus dilalui dengan berbagai tantangan yang berat. Namun berkat dukungan dan dorongan yang begitu kuat dari Kyai Mahrus Ali, Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Kyai Noer Muhammad Iskandar, SQ pun berhasil. “Ia banyak membuka wawasan dan cakrawala berpikir saya akan pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata Kiai Noer tentang Kiai Mahrus Ali.

Bacaan Lainnya

Bukan hanya itu, dalam upaya membuka cakrawala berpikir dan memahami Al Quran, umumnya metode yang diterapkan di pesantren-pesantren berkembang dengan pendekatan dogmatis.

Akibatnya, pemahaman Al Quran sebagai way of life seringkali menjadi terbatas dipahaminya, yaitu hanya menyentuh aspek ubudiyah. Sementara di sisi lain, kelompok akademisi yang berbasis di kampus sekuler, memahami Al Quran dengan pendekatan resionalistik.

“Mereka menempatkan Al Quran sebagai objek kajian akal, sehingga ayat-ayat yang tak mampu disentuh akal pikiran mereka, dengan mudah dipangkas. Bahkan ada kecenderungan, ketika dogma Al Quran harus bersinggungan dengan budaya lokal, tidak segan-segan kelompok ini mengalahkan dogma Al Quran,” katanya.

Kondisi inilah yang memperkuat dirinya untuk tidak bergabung dengan pondok pesantren, baik yang didirikan ayahnya, Kiai Iskandar, maupun di Pesantren Lirboyo kediri sebagai staf pengajar, melainkan ia merantau ke Jakarta untuk kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ).

Dari perjalanan waktu yang dihabiskan di PTIQ, Kyai Noer Muhammad Iskandar menarik kesimpulan bahwa seorang santri harus bisa membuka wawasan yang seluas-luasnya, untuk memahami simbol-simbol Al Quran lebih dari sekadar pemahaman ubudiyah.

Begitu banyak ajaran Al Quran yang sampai kini belum tergali, dan tak akan pernah selesai tergali sampai kiamat. Maksudnya, bukan sekadar menggali atau mengkaji. Tapi esensi dan pemahamannya harus dikembalikan kepada langkah-langkah aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Temukan kami di Google News.