Tidak ada satupun lingkaran di masyarakat yang tidak pecah. Seluruh institusi poltiik, bahkan satu-satunya fungsi institusi politik menurut Cak Nun, efektivitasnya sangatlah memecah belah. Juga tujuan utama pilpres saat ini adalah memecah belah rakyat, untuk bermusuhan satu sama lain.
“Buktikan dengan adanya sistem demokrasi, pemilihan legislatif, pilpres, buktikan itu membuat kita semakin dewasa, rukun, semakin meng-Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Semakin matang rasionalitasnya. Sebab sampai hari ini yang kita terima adalah faktor memecah belah satu sama lain.”
Yang keempat adalah melalui revolusi urat leher. Dijelaskannya, bukan seorang tokoh kemudian revolusi untuk menjadi presiden, melainkan seorang presiden setelah jadi dan dilantik, mau merevolusi keadaan dan merombak total seluruh tatanan kenegaraan.
Sebab, kata Cak Nun, bus kita goyang terus, chasis dan rodanya tidak benar. Harus ada revolusi ke dalam. Orang yang berkuasa, berani melakukan revolusi bertahap, dengan takaran dan gradasi serta irama yang tepat. Orang ini harus bisa ngomong dengan bahasa rakyat serta punya kedekatan dengan hati rakyat. Ajak rakyat berubah dan merasa lega melakukan perubahan bersama-sama. Bikin rakyat percaya kepadanya dan dia percaya kepada rakyat.
“Dengan begitu, kita bisa berubah lewat cara keempat ini. Yakni lewat KPK. Perjuangan Novel, kaum muda KPK, harus menjadi pelopor berubahnya Indonesia secara menyeluruh.”
Kagum Kepada Anak-anak Muda Yang Toh Nyawa
Malam itu, Cak Nun mengaku bertemu dengan Indonesia yang sejati. Pejuang masa depan Indonesia. Anak-anak muda KPK yang toh nyowo, bertaruh nyawa, untuk memperjuangkan keadilan hukum, memperjuangkan kebersihan negara dari korupsi.
Ia pun siap memback-up dan ikhlas diikutsertakan mendampingi dan menuntaskan kasus Novel. Sebab, kebenaran itu, ada yang wajib disampaikan. Seperti kebenaran hukum terkait kasus Novel Baswedan yang wajib dituntaskan.
