“Saya minta teman KPK wiridan khusus untuk teman-teman di KPK agar selamat. Ada tingkatan permohonan, pertama doa, kedua wirid dan ketiga hizb nashr. Saya kira perlu juga ketiganya. Ini agar mereka dilindungi Tuhan, punya etos kerja dan daya juang, supaya tidak berhenti menjaga Republik Indonesia dari pencurian dan korupsi,” imbuhnya.
“Saya di zaman Pak Busyro Muqoddas, full membantu. Pak Busyro turun, saya mulai tidak intens lagi. Kemudian ada beberapa hal yang membuat saya ragu kepada KPK. Tapi akhir-akhir ini, saya mulai mengenal lagi KPK yang dulu. Setelah ketemu Novel, Pak Busyro, teman-teman lain, oh ternyata Indonesia memang harus ditolong,” ungkap Cak Nun penuh keprihatinan.
Acara dipungkasi dengan doa Cak Nun serta membaca ayat kursi dan QS Yasin ayat 82, bersama-sama. Cak Nun juga mengutip QS. Al-Isra Ayat 81 “wa qul ja’al haqqu wa zahaqol baathilu, innal baathila kaana zahuuqaa.”
Pelaku, aktor intelektual penyiraman air keras Novel Baswedan, para peneror penyidik muda KPK yang toh nyawa, anggota-anggota tim kesebelasan korupsi, mulai hari ini patut ciut nyalinya. KPK, Novel, kini benar-benar tidak sendirian.
Malam itu langit di atas Gedung KPK bergetar. Jibril terbirit-birit lari kepada Tuhan menyampaikan doa manusia-manusia ikhlas dan bergegas mengurus administrasi untuk segera dikabulkan dan ditunaikan. Doa para pejuang antikorupsi ini, menggedor-gedor dan menembus langit. Tunggu saja waktunya!
(FMB)
