2 Tahun Penyiraman Air Keras, Cak Nun: Novel Baswedan Wajah Indonesia Sebenarnya

Cak Nun
Emha Ainun Najib (Cak Nun) bersama Najwa Shihab dan Novel Baswedan di depan gedung KPU RI. [foto : Inisiatifnews]

Andaikan sekarang perkara ini sudah beres, tentu menjadi berkah bagi Presiden yang sekarang pada 17 April nanti. Andaikan penuntasan perkara ini menjadi salah satu sumpah politik Capres lainnya untuk membereskannya, semua rakyat akan mengetahui karakternya.

Tidak terselesaikannya kasus ini sampai dua tahun menambah ketidakpercayaan rakyat kepada sistem Negara, undang-undang dan hukum, terutama kepara pelakunya. Kalau ribuan tahun pola Kerajaan kita tinggalkan untuk mendirikan Negara—kemudian formula Negara juga ternyata tak bisa diandalkan—akan terpaksa berhijrah ke mana lagi rakyat Indonesia esok hari dan di masa depan? Apakah 2019-2024 akan menjadi bagian awal dari hijrah sejarah itu, ataukah Indonesia stagnan dalam kebobrokan?

Novel adalah warga negara, dianiaya oleh warga negara lain yang menentang hukum Negara. Membunuh hukum Negara adalah menghina kesepakatan demokrasi rakyat. Melecehkan perjuangan para leluhur untuk memperoleh kemerdekaan bangsa. Merendahkan martabat Proklamasi dan Proklamatornya sekaligus.

Itulah potongan esai berjudul Utang Sejarah yang dibuat khusus oleh Cak Nun yang dibacakan salah satu pegiat Kenduri Cinta, forum Maiyah yang rutin digelar Cak Nun di Jakarta.

Cak Nun mengawali orasinya dengan kebingungan dan ketidakpahamannya atas Indonesia yang menggelayutinya sejak lama. Tepatnya sejak 22 Mei, setelah Soeharto turun, ia mengaku mengambil jarak dari Republik Indonesia. Pria kelahiran Jombang Jawa Timur ini bilang, banyak tak paham dengan Indonesia. Reformasi ia tinggalkan, karena salah satu faktanya, ternyata sebagian teman-teman seperjuangannya kala reformasi, adalah Soeharto kecil yang ingin menjadi Soeharto besar.

“Saya beruntung, saya ngobrol panjang sama Bang Novel, saya merasa saya dari dulu halo-halo saja dari jauh dengan republik Indonesia. Miskomunikasi dengan Indonesia. Tetapi, saya tadi bertatapan wajah langsung dengan Bang Novel, ini loh wajah sebenarnya Indonesia,” ujar Cak Nun, membuat orang di pelataran Gedung KPK bergetar hatinya.

Lewat pertanyaan-pertanyaan, Cak Nun lantas mengajak masyarakat kritis dengan mengidentifikasi pada bagian mana kerusakan Indonesia bermula. Jika diibaratkan bus, Indonesia masalahnya apakah ada pada sopirnya? Atau kondektur yang ngentit duit terus, ataukah kernet yang ketika memberi kode kepada sopir-nya keliru-keliru. Ataukah mesinnya yang rusak? Chasis-nya tidak benar atau seluruh bus ini harus direvolusi habis-habisan? Atau ganti bus sekalian.