2 Tahun Penyiraman Air Keras, Cak Nun: Novel Baswedan Wajah Indonesia Sebenarnya

Cak Nun
Emha Ainun Najib (Cak Nun) bersama Najwa Shihab dan Novel Baswedan di depan gedung KPU RI. [foto : Inisiatifnews]

Ia kemudian menyentil kondisi penegakan hukum dan pemberantasan korupsi saat ini. Pemberantasan korupsi seperti pertandingan sepak bola. KPK adalah kesebelasan antikorupsi yang melawan kesebelasan korupsi. Namun, ada kejadian aneh. Sesama kesebelasan antikorupsi malah memasukkan bola ke gawang sendiri. “Ada apa? Kok malah disiram air keras oleh pemain antikorupsi sendiri,” tanya Cak Nun mengajak berpikir.

Soal posisi kelembagaan KPK, menurut Cak Nun, KPK bukan alat pemerintah, mestinya tidak bisa dilantik oleh pemerintahan. Karena tugas nomor satu KPK adalah mengawasi kepala pemerintahan. Semua pihak harus mencari formula yang tepat untuk positioning kelembagaan KPK.

“Juga ternyata bukan hanya Novel, kata Najwa, ada 115 orang yang mengalami hal yang sama, alami kedholiman yang serupa. Ini apa yang salah. Jangan-jangan yang salah aturan mainnya atau game plan-nya.”

Jamaah Maiyah dan simpatisan Novel Baswedan serta masyarakat luas sedang mendengarkan dialog ketiga tokoh itu.

Empat Jalan Perubahan

“Anda mendukung KPK hari ini atau seterusnya? Seminggu dua Minggu? Setahun dua tahun, dua puluh tahun? KPK ini pintu. Anda akan berjuang sangat kompleks dan menyeluruh.” Itulah tantangan Cak Nun kepada hadirin yang membludak di pelataran Gedung KPK.

KPK, bagi Cak Nun, adalah pintu perubahan Indonesia secara menyeluruh. Sejak tahun 70-an, menurutnya, anggapan pemerintahan dan negara ini semakin busuk untuk kemudian akan bangkit, sudah didengungkan. Anehnya, sampai saat ini, tetap busuk juga. Belum bangkit juga iya. Cak Nun memprediksi tak akan ada perubahan drastis jika begini-begini saja. Apalagi kita sudah belajar dan terbiasa hidup dalam bangkai, senang dengan penderitaan orang lain dan “ahlinya ahli” untuk berbuat buruk.

Lantas perubahan menyeluruh ini lewat jalan apa? Ada empat, kata Ayah Sabrang (Noe), vokalis Letto ini. Pertama lewat penyakit endemik, wabah dan penyakit menular besar-besaran. Kedua, bencana gede-gedean di seluruh Indonesia. Kalau sekadar tsunami, sekian wilayah terjadi gempa, tak akan ada perubahan signifikan. Tapi nauzubillah min dzalik. Kita semua berdoa ini tak akan terjadi.

Yang ketiga adalah perang saudara. Ada yang cemas soal perang saudara di tahun-tahun ini. Tetapi, tentu semua juga berdoa ini tak akan pernah terlaksana. Tapi bagaimana tidak? Syarat-syarat menuju ke sana sudah mulai dicicil bangsa ini.