2 Tahun Penyiraman Air Keras, Cak Nun: Novel Baswedan Wajah Indonesia Sebenarnya

Cak Nun
Emha Ainun Najib (Cak Nun) bersama Najwa Shihab dan Novel Baswedan di depan gedung KPU RI. [foto : Inisiatifnews]

Ia prihatin kasusnya belum dapat perhatian dari aparat penegak hukum. Sampai saat ini, penanganannya tak jelas. Ia mengajak seluruh masyarakat mendesak pemerintah segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen.

Ia menggarisbawahi, masih ada banyak serangan kepada koleganya di KPK yang tidak terungkap. Serangan kepada KPK yang sedang bekerja ini luar biasa menghambat.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat mendukung agar KPK terus semangat dan berani menjaga komitmen memberantas korupsi. Teror yang tak kunjung diungkap ini tidak boleh dianggap hal sepele. Publik wajib terus mendesak. Setiap teror kepada penegak hukum harus diungkap dengan serius. Tidak boleh dibiarkan.

Kalau dibiarkan, ke depan orang akan semakin berani meneror dan menyerang para pemberantas korupsi. Sementara yang tadinya berani memberantas korupsi, akan takut dan merasa terancam.

Diingatkan Novel, tidak ada negara maju yang penegakan hukum dan pemberantasan korupsinya bermasalah, apalagi teror atasnya, dibiarkan. “Dua tahun, belum ada langkah terang. Saya meminta dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta.”

Novel Baswedan.

Semestinya, saran Novel, KPK, utamanya pimpinannya, membuka diri dan tidak menutupi. Tentunya, KPK sadar akan selalu dimusuhi oleh para koruptor. Dari dulu, jika KPK melakukan tugasnya, selalu ada perlawanan. Dia berharap, ada upaya mencegah terjadinya penyerangan. Caranya yakni, setiap penyerangan terhadap KPK jangan dibiarkan apalagi dimaklumi. Korban penyerangan selama ini takut, sebab bisa jadi akan menjadi korban kedua kali.

Perlindungan yang terbaik, terhadap pemberantas korupsi adalah apabila setiap serangan yang terjadi, diungkap dengan terang. “Harus dibawa ke ruang terang. Ini seharusnya bukan perkara sulit. Kalau kasus ini ditelantarkan, penangannya akan jauh lebih sulit. Pimpinan KPK itu harusnya membuka diri dan tidak menutup-nutupi,” tandas Novel.

Novel Baswedan Wajah Indonesia Yang Sebenarnya

Tanggal 11 April 2019 ini tepat dua tahun terjadinya kekejaman yang menimpa Novel Baswedan. Tragedi komplit: kemanusiaan, politik, moral, keagamaan, demokrasi dan hukum. Lengkap. Pengkhianatan terhadap inti nilai kehidupan. Puncak pembangkangan terhadap Tuhan.