Tokoh Madura, Islah Bahrawi mengatakan, dirinya akan tetap bersuara kritis kepada pemerintahan Presiden Prabowo. Ia menegaskan, itu akan terus dilakukan karena kebenaran tidak bisa ditawar dan apa yang belum benar harus selalu disuarakan.
Ia menyampaikan, dirinya bisa membandingkan antara Prabowo ketika sebelum dan sesudah menjadi Presiden lantaran membaca buku Paradoks Indonesia yang ditulis Presiden Prabowo. Islah menyayangkan, hari ini malah terjadi semacam anomali.
“Di situ Prabowo menyebut soal Ricardo Haussmann yang ternyata tidak dia lakukan, yang dulu dia proteskan ke Jokowi pada masanya ternyata dia tidak bisa lakukan juga tentang itu. Maka, ini harus disuarakan, terus harus kita ganti nama Prabowo jadi Fulan? Ini memang harus sampai dan Pak Prabowo harus mendengar,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Rabu (15/04/2026).
Ia menekankan, begitu berbeda Prabowo ketika melihat dan ketika memegang Indonesia sebagai Presiden. Islah mengingatkan, teori-teori tentang demokrasi sudah banyak menunjukkan Indonesia kini betul-betul jadi negara yang mundur dari sisi demokrasi.
Hal itu membuatnya merasa tidak mungkin diam, tanpa mengecilkan prestasi-prestasi yang mungkin dicapai pemerintahan Presiden. Islah turut meyakini kalau pendukung-pendukung Prabowo sebenarnya banyaj yang sakit hati melihat Indonesia hari ini.
“Saya kira yang mendukung Prabowo juga banyak yang sakit hati, saya yakin sekali, kecuali dia punya dapur MBG, itu social class baru yang diciptakan totalitarian,” ujar Islah.
Islah menekankan, sikap kritisnya tidak akan berubah siapapun yang sedang berkuasa. Termasuk, jika pada kontestasi Pilpres 2024 lalu yang menang bukan Prabowo-Gibran, dan yang berkuasa Ganjar Pranowo-Mahfud MD atau Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
“Dan saya pun, misalnya Aba Mahfud yang menang, mohon maaf dengan segala hormat, pasti saya kritik juga. Kalau memang ternyata ada yang menyimpang dari idealisme awal, pasti saya juga akan kritik,” kata Islah kerap disebut barisan sakit hati.
Soal sikap kritisnya kepada Presiden Prabowo, Islah membenarkan, dirinya belakangan banyak mendapat teror-teror. Salah satunya yang kerap diterima Islah Bahrawi lewat telepon genggam atau malah disampaikan langsung kepada keluarga Islah di Madura.
“Saya selalu memendam dalam diri saya kalau ada teror-teror itu dan banyak sekali sampai saya mematikan WhatsApp, salah satu nomor WhatsApp saya matikan karena memang itu nomor banyak sekali yang punya, sehingga banyak sekali teror-teror,” ujar Islah.
Bahkan, lanjut Islah, ada video-video orang dipenggal yang dikirimkan dan pengirim mengingatkan itu bisa terjadi kepada Islah. Uniknya, Islah sempat melakukan cek ke nomor-nomor yang kerap menerornya dan mengaku heran kenapa mereka melakukan itu.
“Setelah saya cek secara digital, ini siapa, memang kebanyakan harus saya katakan, di situ memang komandan ini, memang di situ kostrad ini, kadang-kadang ada atribusi yang melekat kepada tentara, sehingga saya akhirnya berpikir kenapa harus tentara? Itu yang membuat saya akhirnya harus betul-betul agak sedikit tiarap. Tapi, sekali lagi, kalau kita jadi santrinya Aba Mahfud kan tidak bisa tiarap,” kata Islah.
Meski begitu, Islah menegaskan, bagi orang-orang yang menjadi murid dari sosok seperti Mahfud MD diam bukan merupakan pilihan. Ia menilai, ketika kita gelisah tentang negara, tentang kepentingan kolektif rakyat, pilihannya hanya bersuara.
“Kemarin ada paman saya dari Madura, ini saya tiba-tiba didatangi dari salah satu partai, Islah sudah diam kalau masih mau pulang ke Madura. Dia telepon, jadi dia didatangi oleh banyak orang, kalau masih mau pulang ke Madura, tolong suruh diam, tidak usah bicara macam-macam tentang Presiden. Saya bilang, ya sudah, begini aja, kalau memang saya disuruh diam, saya tidak boleh pulang ke Madura, awas itu orang yang mengancam itu datang ke Jakarta,” ujar Islah, menjawab dengan santai. (WS05)
