Jika Gerindra Gabung Pemerintah, Wempy Gambarkan Dua Efek Sampingnya

jokowi, prabowo
Jokowi dan Prabowo di Istana Merdeka. [istimewa]

Inisiatifnews – Pengamat politik dari Indopolling Network, Wilhelmus Wempy Hadir menilai jika seandainya Partai Gerindra bersedia bergabung dengan pemerintahan Joko Widodo dan KH Maruf Amin, maka efek samping yang bisa dibaca ada dua poin.

Pertama adalah dampak yang sangat positif karena bertambahnya kekuatan politik jelas akan bisa dicapai oleh koalisi pemerintah.

Bacaan Lainnya

“Jika Gerindra masuk dalam koalisi, maka dua dampak yang terjadi. Yang pertama adalah koalisi semakin kuat secara kuantitas,” kata Wempy dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (29/7/2019).

Wempy menilai koalisi pemerintah akan sangat mudah melakukan konsolidasi-konsolidasi demi melancarkan program kerja yang ingin digapai oleh pemerintahan di bawah kendali Joko Widodo itu.

“Dengan demikian akan sangat mudah untuk melakukan konsolidasi dalam rangka menyukseskan program kerja pak Jokowi-Maruf Amin. Selain itu, kekuatan di parlemen juga semakin signifikan,” imbuhnya.

Selain itu, masuknya Gerindra juga bisa mengurangi tarik ulur kepentingan pada koalisi yang sudah dibangun selama ini. Salah satu contoh yang disampaikan Wempy adalah, jika seandainya ada partai yang hendak hengkang dari koalisi, maka kekuatan Jokowi dan Maruf Amin tetap signifikan.

Meskipun dampak positif akan memberikan power tambahan bagi pemerintah, namun ada efek samping yang lain dan yang tidak kalah penting untuk diperhitungkan kembali adalah semakin membengkaknya jumlah kekuatan jelas akan mempersulit koordinasi karena terlalu banyak melakukan power sharing.

“Yang kedua, masuknya Gerindra dalam koalisi bisa membawa dampak negatif yakni koalisi semakin gemuk dan susah dalam melakukan koordinasi. Dan yang paling sulit adalah bagaimana membagi peran kepada parpol koalisi,” tuturnya.

Menurut Wempy, pertimbangan power sharing juga dilihat dari bagaimana manuver partai-partai politik koalisi di Pilpres 2019 memberikan bargain politiknya.

“Apakah pembagian peran di kekuasaan berdasarkan peta kekuatan di parlemen hasil pileg 2019 atau apakah acuan lain. Sampai bulan oktober, kita akan melihat bagaimana setiap parpol melakukan politik untuk melakukan bargaining politik dengan Jokowi-Maruf Amin,” pungkasnya.

Namun demikian, Wempy juga melihat dampak negatif lain adalah akan ada gesekan dan ketegangan di kalangan grass root pendukung Jokowi-Maruf di Pilpres 2019. Mereka akan merasa kecewa jika Jokowi membuka pintu koalisi dengan partai yang menjadi rival politiknya itu.

“Masuknya Gerindra dalam koalisi bisa memicu ketegangan dalam pendukung Jokowi,” tandansnya.

Pun jika terjadi hal demikian, Wempy menilai ketegangan dan kekecewaan para pendukung Jokowi-Maruf tidak akan berlangsung lama karena Gerindra maupun partai koalisi pemerintah adalah sesama partai nasionalis.

“Tapi ketegangan itu tidak akan berlangsung lama. Sebab Gerindra dan pendukung Jokowi merupakan kelompok nasionalis. Jadi hal tersebut tidak terjadi perdebatan yang panjang,” imbuhnya. [NOE]

Temukan kami di Google News.