‘Feodalisme Tidak Bisa Dihilangkan, Bahkan Islam di Indonesia Sangat Berkasta’

Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin (kanan), dalam program Perspektif 1 on 1 di YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin (kanan), dalam program Perspektif 1 on 1 di YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin, membagi masyarakat Indonesia dalam empat kelompok yaitu Saiwa, Waisnawa, Tantra, dan Islam. Baik dalam cara kita bernegara, bermasyarakat, beragama, maupun dalam cara kita berpikir secara umum.

“Satu, saya sebut sebagai Saiwa, itu tradisi yang sifatnya ritualistik, seremonial, repetitif, formalis. Saiwa itu pemuja Siwa, ini pengaruhnya sangat dalam ke cara kita berpikir dan sampai saat ini kita pertahankan tradisi Saiwa. Misal, Indonesia Raya itu berulang-ulang, tahlilan itu berulang-ulang, kalimat yang sama, repetitif, formal,” kata Al Makin kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif 1 on 1 di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/07/2026).

Kedua, ia menjelaskan, ada Waisnawa atau pemuja Wisnua yang disimbolkan dalam Candi Prambanan dan tidak didapati di tempat lain seperti India karena tipikal Nusantara. Ketiga, ada Tantra (Mahayana) dan terakhir ada unsur-unsur Islam mulai abad ke-13.

“Maka, cara kita beragama Islam juga dipengaruhi oleh ini. Selamatan, itu para antropolog dan sosiolog sudah banyak berargumen, tapi sebetulnya itu jauh lebih dalam mempengaruhi pola pikir kita, cara kita bernegara, struktur masyarakat kita. Sebenarnya masyarakat kita sampai sekarang berkelas, stratifikasi sosial, feodal, kata Mochtar Lubis kita tidak bisa menghilangkan feodalisme,” ujar Al Makin.

Penulis buku ‘Dari Athena sampai Nusantara’ itu melihat, baik Saiwa, Waisnawa, dan Tantra itu menyatu dalam Islam, sehingga struktur kita sangat ketat. Misal, mereka yang sudah jadi sarjana, dosen, akademisi, pejabat, ditempatkan di strata tinggi.

Bahkan, sering kita lihat gelar-gelar profesor atau doktor masih disematkan kepada mereka yang sudah meninggal di pemakaman. Dalam undangan-undangan sekalipun sudah biasa ada penyebutan gelar-gelar dari orang tua, bahkan gelar-gelar keagamaan.

“Pramoedya Ananta Toer juga sudah mengkritik, ini sama dengan Raden, sama dengan Pangeran, dan ini tidak barang yang singkat, itu sudah menjadi ingatan kolektif yang sewaktu-waktu muncul, watak feodalisme. Dia setiap ada hujan ini tumbuh, ini laten, tidak pernah hilang. Dan Islam kita kan sangat berkasta, kata santri tidak ada dalam Alquran, lalu ada Gus, Kyai, sama dengan Profesor tadi,” kata Al Makin.

Bahkan, kesalahan penyebutan gelar-gelar dalam sebuah acara bisa berdampak serius. Bagi Al Makin, semua membuktikan kalau masyarakat kita sampai hari ini sekalipun masih hidup dalam kasta-kasta, yang sekaligus membuktikan terjaganya feodalisme.

Meski begitu, Al Makin menolak apa yang ditemukannya sebagai pandangan sinkretisme atau pencampur adukkan antara agama dan budaya. Ia berpendapat, apa yang ditulisnya sekadar penjabaran fakta yang suka atau tidak suka masih terjaga di Indonesia.

“Tidak positif atau negatif, tapi itu kenyataan, realitas itu bahwa masyarakat kita, agama apapun yang kita peluk, iman apapun yang kita percayai, sadar atau tidak sadar dalam kesadaran kolektif kita, kita sudah berbasis itu, empat hal itu,” ujar Al Makin. (WS05)

Temukan kami di Google News.