Ternyata Ini Prinsip-Prinsip dari Sosok Mahfud MD yang Menginspirasi Islah Bahrawi

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/04/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/04/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura yang merupakan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, akhir-akhir ini menjadi perbincangan usai menyampaikan kritik keras ke Presiden Prabowo. Salah satunya saat menjadi pembicara di Komunitas Utan Kayu.

Kritik itu menarik perhatian publik karena dinilai cukup keras di tengah banyaknya tekanan kepada aktivis, akademisi, dan mereka yang bersuara kritis. Ditanya soal keberaniannya, ternyata ada sosok Mahfud MD yang jadi salah satu inspirasi Islah.

“Saya belajar dari Pak Mahfud. Saya tahu kalau Pak Mahfud itu dianggap ‘peluru tak terkendali’ oleh Gus Dur. Kenapa sih atribusi ini Gus Dur lekatkan ke Pak Mahfud? Setelah saya melihat, ternyata memang satu ilmu menurut saya. Orang itu tidak akan takut dengan apapun, tidak akan minder dengan apapun kalau dia itu merasa menguasai keilmuan yang dia bicarakan,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/04/2026).

Bagi Islah, keilmuwan yang dikuasai itu menjadi modal utama bagi siapa saja untuk tampil berani menyuarakan kebenaran. Selain itu, ia menekankan, sosok Mahfud yang bersih menginspirasinya senantiasa bersih, sehingga tidak bisa tersandera apapun.

“Itu kenapa saya harus bisa seperti Pak Mahfud, itu yang membuat saya berani. Tapi bukan hanya itu saja, kalau ada etik dan moral yang tidak bisa dijaga, tetap juga orang bisa terbeli keberaniannya, orang bisa takut kalau dia tersandera. Sehingga, kemudian saya belajar lagi kepada Pak Mahfud, ternyata Pak Mahfud itu memang tidak bisa dibeli oleh siapapun, sehingga dia betul-betul menjadi peluru tak terkendali. Dia akan berani menyuarakan yang benar itu benar yang salah itu salah,” ujar Islah.

Islah mengungkapkan, dari prinsip-prinsip yang dipegang Mahfud MD itu dirinya mulai terinspirasi dan menjadikannya sebagai pembelajaran. Salah satunya soal keberanian yang ternyata dapat ditentukan kemunculannya dari apa yang selama ini kita perbuat.

“Kalau kita itu terbiasa melacurkan diri ke mana-mana, pada akhirnya kita seperti barang dagangan saja, itu yang betul-betul kita jaga agar tidak jadi murah sekali. Dan ini pengalaman pribadi saya, saya terus terang kalau ceramah di mana-mana yang bisa dilihat di YouTube, di mana-mana, termasuk di channel saya, di channel Terus Terang Media ini, di Berani itu, saya tidak pernah pakai konsep, saya tidak pernah pakai pointer, yang muncul itu adalah dari buku-buku yang saya baca,” kata Islah.

Islah menerangkan, banyak kejadian-kejadian terkait Mahfud MD yang menginspirasi. Antara lain ketika menjabat Menkopolhukam, tapi berani berdiri menyatakan sikapnya dalam kasus Ferdi Sambo, berseberangan dengan banyak pejabat-pejabat yang membela.

Saat itu, lanjut Islah, sosok Mahfud MD benar-benar jadi pejabat negara yang berani mengambil risiko sampai terbukti benar. Sikap Mahfud tegas pula dalam kasus-kasus besar seperti kasus Teddy Minahasa dan kasus pencucian uang Rp 349 T Kemenkeu.

“Kalau buat saya, terutama ketika kasus Sambo. Saya melihat Pak Mahfud betul-betul menjadi the last man standing di situ, ketika Sambo itu berbohong dalam waktu yang sangat lama, sehingga banyak sekali korbannya di dalam internal kepolisian yang terpengaruh dengan cerita yang dibuat oleh, yang di-makeover oleh Sambo ketika itu, masih percaya dengan proses tembak-menembak. Pak Mahfud sudah betul-betul menjadi one man show di situ yang mengatakan ini bukan tembak-tembakan, ini pasti terjadi kriminal, terjadi penembakan yang dilakukan langsung oleh Sambo,” ujar Islah.

Sebagai informasi tambahan, dalam keseharian Islah turut memanggil Mahfud dengan sebutan yang hampir tidak pernah dipakai orang lain ke Mahfud, yaitu Aba Mahfud. Di Madura, itu menjadi sebutan yang biasanya dilekatkan ke orang-orang yang dihormati.

Biasanya, sebutan Aba Mahfud itu turut dilekatkan kepada orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji dan melakukan perjalanan panjang ke Tanah Suci. Ternyata, selain ke Mahfud MD, panggilan itu turut digunakan Islah kepada Ayah kandungnya.

“Saya juga ke Bapak saya manggil Aba juga, tanpa H. Jadi, saya panggil Aba, juga ke Aba Mahfud saya manggilnya Aba, Aba Mahfud, bukan Pak Mahfud, kalau Pak Mahfud itu kesannya sudah terkontaminasi dengan Jawa. Jadi, saya manggilnya Aba Mahfud supaya atribusi ke-Madura-an tidak hilang, lebih natural kalau saya menganggapnya begitu,” kata Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.