Jadi Bagian Keluarga Besar Ponpes Sunan Drajat, Mahfud MD Ingatkan Pentingnya Peran Santri Jaga NKRI

Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD dianugerahi status sebagai warga keluarga besar pondok pesantren (Ponpes) Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (04/05/2019) tepat pukul 22.00 WIB.

Mahfud MD diundang ke ponpes ini untuk nemberi tausiyah dalam rangka haul (peringatan hari wafat) trio pendiri Ponpes Sunan Drajat pada tahun 1460-an yakni Raden Qosim (Sunan Drajat), Mbah Banjar, dan Mbah Mayang Madu.

Bacaan Lainnya

Sekadar informasi, Ponpes Sunan Drajat adalah ponpes pertama atau tertua di Indonesia yang dibangun pada abad ke 15 oleh putera Sunan Ampel yakni Raden Qosim yang kemudian bergelar Sunan Drajat ini. Semula Raden Qosim atau Sunan Drajat dikirim oleh ayahnya, Sunan Ampel, untuk membantu dakwah Islam Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu di Paciran, Lamongan.

Di sana beliau mendirikan Ponpes yang masih terlacak dalam sejarah sebagai pondok pesantren tertua yang ada di Indonesia sekarang ini. “Ponpes Sunan Drajat adalah satu-satunya Ponpes yang masih ada dari Ponpes-ponpes yang dibangun langsung oleh Wali Songo,” cerita Pengasuh Ponpes KH. Dr. Abdul Ghofur yang merupakan salah seorang keturunan Sunan Drajat.

Namun Ponpes ini pernah juga tak terurus atau timbul tenggelam selama ratusan tahun dan baru dikelola secara moderen pada dasawarsa 1990-an. Ponpes ini dihidupkan lagi oleh Dr. KH Abdul Ghofur pada tahun 1977 dan berkembang pesat dan sampai kini menampung sekitar 12.000 santri.

Di Ponpes ini ada pendidikan formal, nonformal, dan informal yang kurikulumnya meramu pendidikan tradisonal khas pesantren dengan pendidikan moderen. Sementara Mahfud MD sendiri memang layak ditetapkan sebagai warga Ponpes Sunan Drajat karena ia juga orang pesantren. Masa awal pendidikan Mahfud MD memang dimulai di Ponpes Al-Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura.

Dalam kesempatan ini, Mahfud MD yang juga Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan itu memberi ceramah haul yang berisi telaah tentang peran Sunan Drajat yang perlu dielaborasikan ke dalam filsafat pendidikan Ponpes di era kekinian dan masa mendatang.

Mahfud MD mengajak seluruh pesantren menyiapkan santri-santrinya untuk membangun Indonesia masa depan tanpa gamang karena peran kaum santri sangat besar dalam mendirikan dan mempertahankan negara Indonesia.

Mahfud MD yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) se-Indonesia ini mengajak masyarakat tidak melupakan sejarah perjuangan para penyebar Islam di bumi Indonesia.

“Meminjam ungkapan Bung Karno ‘Jasmerah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah mari kita gali sejarah para pejuang kita untuk kita lanjutkan nilai-nikai baiknya yang tak pernah lekang. Dari sejarahlah kita belajar bahwa yang baik itu akan abadi dan yang buruk itu akan musnah,” ajak Mahfud sambil mengutip beberapa ayat Qur’an.

Ia juga menguraikan tiga pilar pengembangan ilmu menurut Islam yakni, mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama, menguatkan rasionalitas tetapi menolak rasionalisme, dan mengembangkan iptek untuk kemaslahatan umum.

Acara yang dihadiri oleh lebih dari 20.000 santri, wali santri, dan masyarakat umum dan diberi tajuk Haul Akbar Ke XXVII Mbah Banjar, Mbah Mayang Madu, dan Sunan Drajat itu berlangsung dengan meriah tapi khusyu’ dan baru berakhir menjelang jam 24.00 WIB. (FMQ/INI)

Temukan kami di Google News.