Mahfud MD: Selamat Istirahat Purbaya, Jalan Masih Panjang, Terus Berkontribusi

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin 14/09/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin 14/09/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, menyampaikan selamat baik kepada Purbaya Yudhi Sadewa maupun Suahasil Nazara. Yang mana, baru saja melakukan serah terima jabatan usai Presiden Prabowo resmi melakukan pergantian untuk Menteri Keuangan (Menkeu).

“Satu, tentu kita apresiasi lah, Presiden tanggap meski terlalu besar lompatannya, tapi ini sebuah upaya perbaikan dan pilihannya kepada Pak Suahasil menurut saya oke juga, seorang birokrat profesional. Saya bekerja dengan dia 4-5 tahun ketika Menko (Polhukam) dan cukup profesional dan correct, mudah-mudahan ini bisa memperbaiki keadaan,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (14/09/2026).

Terkait Purbaya, ia merasa, memang dulu kita semua terlalu besar memiliki harapan. Padahal, Mahfud mengingatkan, sejak awal kita semua tahu kelemahan Purbaya antara lain komunikasi publiknya buruk dan saat ada masalah substansi tidak diselesaikan.

“Begitu dia diganti lalu sesumbar, itu semua gampang, memberi harapan orang, saya pun bertepuk. Itu gampang, untuk pertumbuhan ekonomi nanti gampang, semua dianggap gampang, orang yang bertanya malah dilecehkan. Dulu, ada seorang pakar bicara, Anda bukan ekonom, tidak tahu apa-apa, Anda belajar dulu. Terakhir, dengan ekonom Ferry Latuhihin, itu musuhan mereka, itu Latuhihin bicara di podcast, podcast-nya banyak yang dipanggil, itu pajaknya Latuhihin bicara di podcast berapa,” ujar Mahfud.

Ia melihat, itu salah satu contoh komunikasi yang tidak layak dilakukan seorang Menkeu. Selain itu, banyak janji-janji Purbaya yang terlanjur sesumbar diucapkan pada akhirnya tidak bisa diwujudkan dan jawabannya selalu berubah ketika ditagih.

Bagi Mahfud, kondisi ekonomi tidak pula banyak berubah karena ketakutan publik soal negara mengejar pajak rakyat saat era Sri Mulyani, kembali terjadi di era Purbaya. Bahkan, banyak UMKM-UMKM, usaha rumahan, yang dikejar oleh petugas-petugas pajak.

“Kesan yang selama ini untuk mendapat pendapatan negara ini mengejar pajak sampai hal-hal yang tidak penting yang tidak layak ditarik pajaknya. Mungkin tidak semua, tapi isu-isu yang dikembangkan seputar itu sama waktu zaman Sri Mulyani dan Purbaya itu sama, rakyat dikejar pajaknya. Bahkan, banyak di media sosial itu orang punya home industry, kegiatan di rumah didatangi, diminta pajaknya,” kata Mahfud.

Secara substansi, ia menerangkan, banyak janji-janji Purbaya yang tidak berjalan. Salah satunya soal utang Whoosh yang dulu gampang diucapkan tidak akan ditanggung APBN, tapi pada akhirnya dibayar APBN Rp 1 triliun setiap tahun selama 80 tahun.

Banyak pula masalah-masalah lain yang membuat Purbaya tampak tidak bisa menangkap isyarat-isyarat dari Presiden Prabowo, seperti soal Bea Cukai. Meski begitu, Mahfud memberikan apresiasi kepada Purbaya dan berharap Suahasil bisa berbuat lebih baik.

“Selamat beristirahat dulu kepada Pak Purbaya, jalan masih panjang, Anda masih muda, mudah-mudahan terus berkontribusi. Tapi, saya mengucapkan selamat kepada Pak Suahasil, mudah-mudahan lebih firm, dan tentu kita mengapresiasi Presiden yang tanggap sensitif terhadap keluhan-keluhan masyarakat mengenai kinerja Kemenkeu,” ujar Mahfud.

Mahfud mengaku banyak pula mendengar keluhan-keluhan di daerah, termasuk soal 490 pemda yang tidak bisa menggaji karyawan karena pemangkasan pusat. Bahkan, Asosiasi Rumah Sakit Daerah (Arsada) khawatir dana segar dipakai untuk menanggulangi itu.

Selain itu, perseteruan Menkeu Purbaya dan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menunjukkan sisi tidak tahu atau taat peraturan. Apalagi, itu semua ditampilkan ke publik yang seharusnya bisa selesai diselesaikan mungkin lewat sambungan telfon.

Ada pula janji-janji menguatkan rupiah yang terlanjur sesumbar dinyatakan sebagai pekerjaan mudah, tapi akhirnya melempar bola panas ke Bank Indonesia (BI). Menurut Mahfud, semua itu jika diakumulasikan mungkin bisa jadi alasan pergantian tersebut.

“Saya kira harus hati-hati kalau menjadi pejabat. Tapi, bagaimanapun, Pak Purbaya sudah melewati kurang lebih setahun, sudah tampak dalam sejarah perjalanan pemerintahan kita dalam pengelolaan keuangan yang memang serba sulit, bukan soal mudah,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.