Mahfud MD Imbau Masyarakat Bersatu Dalam Titik Temu & Jaga Toleransi

Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof. Mahfud MD menilai toleransi antar agama dan sikap anti-terorisme semakin mengikis selama proses Pemilu 2019. Perbedaan-perbedaan pilihan selama proses lima tahunan ini membawa sikap dan nilai yang harusnya dihindari.

“Secara khusus di Indonesia penyakit itu ada dan sekarang memang sedang mulai muncul dalam menyongsong Pemilu. Ini penyakit intoleran, merasa benar sendiri, dan merasa dia yang harus diikuti,” ungkap Mahfud dalam acara Forum Titik Temu bertajuk “Persaudaraan Insani, Hidup Damai, dan Hidup Berdampingan” di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (10/04/2019).

Bacaan Lainnya

Menurut Mahfud, acara yang digelar oleh Nurcholish Madjid Society, Maarif Institute, Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian, dan Yayasan Terang Surabaya ini dapat menjadi bekal nanti seusai pemilu serentak tanggal 17 April agar tetap bersatu.

“Mudah-mudahan pertemuan hari ini sebagai sebuah refleksi menjadi bekal nanti sesudah tanggal 17 April sore, kan sudah ada hasil, semuanya bersatu lagi sebagai anak bangsa, saya kira ini sangat penting,” tandas Ketua Dewan Pembina MMD Initiative ini.

Forum Titik Temu ini membahas Dokumen Persaudaraan Manusia yang diinisiasi oleh Imam Besar Al Azhar, Sayyed Ahmed el-Thayeb bersama Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus. Dokumen ini menitikberatkan toleransi antar agama dan sikap anti-terorisme.

Banyak tokoh yang hadir dan menyampaikan pesan perdamaian. Di antaranya Tokoh Muhammadiyah dan Pendiri Ma’arif Institute Ahmad Syafi’i Maarif (Buya Syafi’i), istri almarhum Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nyai Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri almarhum cendekiawan Nurcholish Madjid, Omi Komaria Madjid dan mantan Wapres Try Sutrisno.

Tokoh lain yang  hadir di antaranya Siti Musdah Mulia, Komaruddin Hidayat, Ignatius Suharyo, KH Husein Muhammad, HS Dillon, Ruhaini Dzuhayatin, Oman Fathurrahman, Ulil Abshar Abdalla, Sudhamek AWS, Banthe Dammasubho, Chandra Setiawan, Arief Harsono, Pendeta Gomar Gultom, Rommy Mandang, Muhammad Wahyuni Nafis.

Forum Titik Temu yang dihadiri 200 lebih peserta ini juga menekankan pentingnya upaya mempekuat lembaga-lembaga pendidikan dan mendorong mereka untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan saling menghormati serta anti terorisme. “Kalau ada yang radikal-radikal sedikit (di Indonesia) itu niscaya dan kita peringatkan bersama-sama dengan penuh persaudaraan,” ujarnya.

Mahfud menyimpulkan, pada intinya, dokumen persaudaraan manusia dan pikiran-tokoh-tokoh yang menyetujuinya, menyatakan bahwa berislam itu bernegara, toleran, bersatu, dan inklusif dengan yang lain. “Keyakinan manusia dan inti ajaran agama-agama pada awalnya sama (ummatan wahidah) tapi lalu muncul dalam pelembagaan agama yang ber-beda. Maka berjuanglah untuk bangsa di dalam titik temu (kalimatun sawaa) serta konsisten dan toleran (al hanifiyyah al samhah),” pungkasnya. (FMV)

Temukan kami di Google News.