Gempa Bumi Hukum Akibat Kasus Jampidsus, Apa Kabar Presiden Prabowo?

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Senin (20/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Senin (20/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi mengatakan, gempa bumi hukum yang dibuat kejaksaan dan kepolisian memperlihatkan sesuatu. Itu jadi bukti bahwa orkestrasi besar bangsa ini ternyata tidak memiliki partitur yang baik, tidak memiliki konduktor yang mumpuni.

“Pak Prabowo asik sendiri dengan kekuasaannya. Dia betul-betul tidak mendengar echo chamber, masukan dari segala arah yang seharusnya bisa menjadi arah perbaikan bagi bangsa ini. Kasus yang terjadi ini pada akhirnya tidak akan bisa diselesaikan dengan sistem otokrasi,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (20/07/2026).

Ia meyakini, Presiden Prabowo sebenarnya orang baik. Tapi, Islah berpendapat, dia harus bisa membuktikan kebaikan itu dengan mengorkestrasi sebuah ruangan besar ini dari bangsa yang besar ini untuk bisa mengalunkan irama musik yang bisa dinikmati.

Sebenarnya, lanjut Islah, semua sudah lelah menyuarakan hal-hal yang seperti ini. Tapi, jika tidak bersuara, bangsa ini akan betul-betul tertinggal jauh ke belakang. Apalagi, Indonesia sudah mengalami situasi seperti bangsa Afrika 10-15 tahun lalu.

“Kita tahu hari ini kita sudah dilewati oleh sebuah negara yang pernah kelaparan sekitar tahun 10-15 tahun yang lalu, namanya Ethiopia. Rwanda yang berkecamuk, tercabik-cabik oleh perang saudara, hari ini tingkat ekonominya jauh melewati kita. Vietnam yang dulu kita jelek-jelekkan karena dia negara komunis, hari ini tingkat pertumbuhan ekonominya 8,5%. Ini yang kemudian membuat kita miris,” ujar Islah.

Sayangnya, ia menekankan, pidato demi pidato yang disampaikan Presiden Prabowo dan hampir setiap hari harus didengar rakyat ternyata malah membangun pesimisme pasar. Islah merasa, kasus-kasus korupsi yang ada tidak akan bisa diobati tanpa goodwill.

“Hari ini kita mendengar Hotman, kita mendengar pernyataan-pernyataan yang pada akhirnya membuat kita semakin pesimis. Seolah maling besar di negara ini harus diselamatkan. Komplotan perampok, penggarung, penggangsir uang negara, uang rakyat, seolah harus betul-betul diselamatkan. Ada apa dengan Pak Prabowo?” kata Islah.

Hari ini, Islah menilai, semua tidak lagi bisa bicara dengan suara berbisik seperti kata Ibnu Khaldun. Ia melihat, semua harus berteriak, meledak-ledak seperti ciri khas dari pidato-pidato Presiden Prabowo agar suara yang ada benar-benar didengar.

Bagi Islah, hari ini suara yang disampaikan dengan cara meledak-ledak itu yang masih mungkin didengarkan penguasa. Namun, ia menambahkan, jika suara keras itu masih tidak didengar, pada akhirnya semua memang harus turun ke jalan menyuarakan.

“Mohon maaf saudara-saudaraku, semua karena dengan cara meledak-ledak ini, kita yakin akan didengar oleh penguasa. Ketika penguasa tidak bisa dengan suara berbisik kata Ibnu Khaldun, maka yang harus dilakukan oleh rakyat adalah turun ke jalan dan tendang permukaan jalanannya. Supaya apa? Supaya bumi ini bergetar,” ujar Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.