Whoosh Beri Peluang Kembalikan KPK Jadi Kumpulan Malaikat yang Turun dari Langit (Lagi)

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Sate Demokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (29/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Sate Demokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (29/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, menyampaikan keprihatinan melihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini. Termasuk, atas respons KPK menanggapi kontroversi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) yang sisakan utang raksasa untuk Indonesia.

“Kalau memang KPK punya hati nurani dan memang ingin berbakti kepada negara, dan memang punya niatan positif untuk memberangus korupsi di Indonesia ya seharusnya tinggal berinisiatif untuk melakukan lidik, tanpa ada relasi politik, relasi kekuasaan,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Sate Demokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (29/10/2025).

Islah memahami, cukup sulit bagi KPK bertindak seperti dulu dengan Undang-Undang (UU) seperti sekarang. Tapi, ia menilai, kalau orang-orang KPK memiliki kehendak yang baik terhadap masa depan Indonesia, kasus ini malah bisa jadi peluang besar.

Salah satunya untuk menunjukkan kalau KPK memang memiliki taji. Karenanya, Islah memberikan pesan kepada teman-teman di KPK untuk memulai dari hati nurani dan menghilangkan seluruh relasi politik, resiliensi jabatan, pangkat, dan sebagainya.

Ia merasa, percuma kita terus membicarakan potensi dari bonus demografi dan cita-cita Indonesia Emas 2045 jika KPK terus seperti ini. Padahal, Islah mengingatkan, KPK dulu begitu ‘sapere aude’ dan bekerja memberantas korupsi tanpa pandang bulu.

Bahkan, lanjut Islah, di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), KPK tanpa ragu menangkap Aulia Pohan yang merupakan besan SBY. Dengan keberanian itu, SBY sekalipun yang saat itu tentu merupakan penguasa negeri tidak bisa banyak berkutik.

“Bahkan ketua partainya, bahkan juga seluruh pengurus partainya juga Pak SBY tidak bisa melawan. Padahal, Pak SBY Presiden saat itu. Itu, betapa hebatnya KPK, KPK itu betul-betul crowd of angels coming from the sky, jadi kumpulan malaikat terjun dari langit untuk Indonesia, nah itu bisa dibuktikan hari ini,” ujar Islah.

Bagi Islah, saat ini yang paling penting orang-orang di KPK harus mulai mengetuk batin-batin moral masing-masing. Bukan untuk kepentingan institusinya, bukan untuk kepentingan kelompoknya, bukan untuk siapapun, tapi demi masa depan bangsa kita.

“Kita mungkin lunasnya Whoosh juga tidak sampai, di luar kehendak Allah, 60 tahun, saya sekarang kepala 5. Pak Jokowi, Pak Luhut, mungkin sudah tidak ada semua, anak cucu kita yang diwarisi perkara, persoalan-persoalan seperti ini dan utang kepada Cina yang tidak ada habisnya. Mari kita berpikir waras dan rasional,” kata Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.