Kenapa Data BPS Soal Tingginya Angka ‘Hopeless of Job’ di Indonesia Hilang?

Redaktur Pelaksana Project Multatuli, Mawa Kresna, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (16/04/2026). Foto: Wahyu Suryana
Redaktur Pelaksana Project Multatuli, Mawa Kresna, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (16/04/2026). Foto: Wahyu Suryana

Redaktur Pelaksana Project Multatuli, Mawa Kresna, mempertanyakan data-data yang hilang dari Badan Pusat Statistik (BPS). Salah satunya data tentang ‘hopeless of job’ yang sebenarnya tinggi, tapi hari ini sudah tidak dapat ditemukan di BPS.

“Data hopeless of job. Jadi, di BPS itu kita punya data orang yang tidak bekerja dan dia sudah frustasi tidak bisa dapat kerja, akhirnya dia berhenti untuk melamar kerja, itu ada datanya kalau tidak salah tahun 2024 data yang terakhir aku dapat Agustus 2024 itu 1,8 juta,” kata Mawa kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (16/04/2026).

Sesuai data BPS, ia menerangkan, setidaknya sampai 2024 ada 1,8 juta orang di Indonesia yang sudah merasa putus asa karena tidak dapat kerja. Mawa menuturkan, angka itu berkurang sedikit dibanding angka ketika terjadi pandemi Covid-19.

Data itu turut mendorong Mawa untuk melakukan penelusuran lebih dalam atas masalah ketenagakerjaan tersebut. Termasuk, melihat begitu banyaknya acara-acara seperti job fair yang sampai hari ini masih didatangi begitu banyak pencari pekerjaan.

Penelusuran itu semakin membuktikan bahwa fenomena orang susah mendapat kerja itu memang nyata terjadi di lapangan. Namun, Mawa menyayangkan, sejak 2025 ketika dicek kembali data ‘hopeless of job’ di Indonesia itu tidak dapat ditemukan lagi di BPS.

“Aku juga heran kenapa misalnya tadi aku ngomongin data hopeless of job karena penasaran ya, 2025 datanya sudah tidak ada lagi. Jadi, di laporan BPS data soal hopeless of job angkanya sudah tidak ada. Kenapa hilang ya, padahal ini penting buat kita mengukur sebenarnya seberapa banyak sih yang masih hopeless,” ujar Mawa.

Soal lapangan kerja, ia mengingatkan, program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) semula dijanjikan oleh Presiden Prabowo dapat membuka 3 juta lapangan kerja. Belakangan, janji itu diklarifikasi dengan menyatakan 1 juta lapangan pelerjaan.

Namun, Mawa menambahkan, Presiden Prabowo saat mengumpulkan jurnalis-jurnalis pada Maret 2025 di kediamannya sempat pula menyampaikan target lapangan kerja dari MBG tersebut. Saat itu, Prabowo malah menyebut 1 dapur bisa lahirkan 1 pengusaha baru.

“Realitanya ya polisi, jaksa, kader partai, politisi, bukan pengusaha baru juga. Buat kita ya mungkin rasional, Prabowo menghitung bahwa oh nanti jumlahnya akan 3 juta nih, 1 dapur sekian pekerjanya, itu yang ditargetkan. Tapi, kalau kita runut lagi Agustus tahun lalu Prabowo meralat jadinya 1,5 juta, dan Februari tahun ini bilangnya 1 juta. Jadi, kok agak-agak turun nih target-targetnya nih,” kata Mawa.

Terkait MBG sendiri, Mawa mengingatkan, pada awalnya MBG sebenarnya ditargetkan untuk meningkatkan gizi anak-anak, menurunkan angka stunting, dan target-target kesehatan lain. Tapi, hari ini MBG malah dibebani dengan target-target ekonomi.

Padahal, ia menambahkan, satu sektor yang dulunya dibenani beban ekonomi oleh Presiden Prabowo bukan MBG, melainkan Danantara. Bahkan, Danantara ditargetkan mampu membuka 8 juta lapangan pekejeraan baru, tapi malah tidak ada kabarnya.

“Padahal, yang sejak awal dibebani untuk mendongkrak perekonomian itu Danantara, bukan MBG,” ujar Mawa. (WS05)

Temukan kami di Google News.