Ini Alasan Jurnalis Beri Prabowo 3, Gibran 2, dan Bahlil Minus 151 di Rapor Celios

Peneliti Celios, Nailul Huda, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (31/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Peneliti Celios, Nailul Huda, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (31/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Rapor dari Center of Economics and Law Studies (Celios) atas kinerja satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dan Kabinet Merah Putih menghentak publik. Peneliti Celios, Nailul Huda menegaskan, penilaian diberikan oleh rekan-rekan jurnalis.

“Memang ini penilaian yang buat Celios, tapi yang menilai teman-teman jurnalis. Kan pasti teman-teman jurnalis itu yang dekat sama menteri-menteri ini, ketika mereka memberi nilai itu pasti akan seobjektif mungkin. Bagaimana cara mereka untuk tata kelola, komunikasi publik, dan sebagainya,” kata Nailul kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (31/10/2025).

Nailul menilai, itu pula yang membuat Presiden Prabowo Subianto mendapatkan rapor merah dengan nilai 3. Kemudian, rapor merah dengan nilai 2 yang diberikan kepada Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, diberi karena posisinya sebagai cadangan.

“Makanya, bisa dikatakan 3 karena tata kelola negara yang buruk, komunikasinya yang jelek, dan sebagainya. Kalau yang nilai itu murni jurnalis, dari 120 jurnalis, tapi kalau yang apakah Anda akan memilih lagi nanti Prabowo itu baru responden secara umum, karena ini kan bukan survei kepuasan, kita survei kinerja,” ujar Nailul.

Ia menjelaskan, jurnalis-jurnalis yang dilibatkan untuk memberi nilai beragam mulai dari jurnalis di Istana, jurnalis dari media mainstream, atau media non-mainstream. Artinya, bukan hanya melibatkan media-media mainstream yang mudah jangkau politisi.

Sehingga, lanjut Nailul, sudut pandang yang diberikan berasal dari jurnalis yang ada di dalam maupun jurnalis yang ada di luar. Ia menekankan, keterlibatan dari jurnalis dipilih dalam rangka menguatkan pandangan agar penilaian bisa objektif.

“Indikator ada enam, salah satunya tata kelola, kemudian pembuatan kebijakan, pemenuhan janji politik, dan dari sisi komunikasi publiknya. Makanya yang jelek kan terkait BGN misal, Pak Dadan kita kasih nomor dua setelah Bahlil, yang terjelek,” kata Nailul.

Nailul menerangkan, Celios turut melakukan cek ulang dengan kejadian-kejadian yang ada. Misal, dari sisi kepercayaan publik yang dilihat Bank Indonesia (BI) dengan indeks keyakinan konsumen, kepercayaan terhadap lapangan kerja, dan sebagainya.

Maka itu, ia menegaskan, penilaian buruk sekalipun seperti kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang mendapat nilai sampai minus 151 benar-benar bukan karena ketidaksukaan. Tapi, memang karena ada kinerja yang selama ini dilihat publik.

“Kita tidak bilang Bahlil jelek karena tidak suka, tapi karena memang didukung dengan indikator dan kinerja-kinerja yang memang selama ini tidak memuaskan. Data misalkan kalau Bahlil terkait kasus apa sih yang menjadikan dia sampai segitu buruknya, kan ada kasus terkait dengan Shell, terus terkait LPG,” ujar Nailul.

Uniknya, Nailul mengungkapkan, nilai untuk Bahlil itu belum menambahkan indikator seperti kasus Etanol di Pertamina. Selain Bahlil, ada Menko Pangan, Zulkifli Hasan dan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana yang mendapat nilai sangat buruk.

Nailul menambahkan, nilai buruk untuk Wapres turut dipengaruhi perannya yang kosong saat terjadi gelombang demonstrasi pada akhir Agustus dan awal September. Terlebih, Wapres Gibran malah muncul kemudian bersama ojol-ojol dalam pertemuan eksklusif.

“Apa yang ditampilkan sama Gibran tidak sesuai dengan apa yang sedang dikerjakan pemerintah dalam hal ini Prabowo. Nah, itu kita rangkai semua, sehingga menjadi semacam narasi yang bisa menunjukkan Prabowo 3, Gibran 2, bukan ujuk-ujuk kita kasih nilai 3 tanpa ada dasar apapun, itu basis scoring-nya sudah jelas indikatornya,” kata Nailul. (WS05)

Temukan kami di Google News.