Pernah di Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif! Kenapa Mahfud MD Tidak Kaya Raya?

(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD (kanan), saat menjadi tamu di YouTube Syukur Mandar Podcast, Rabu (12/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD (kanan), saat menjadi tamu di YouTube Syukur Mandar Podcast, Rabu (12/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Sosok seperti Mahfud MD seakan jadi anomali di Indonesia. Tidak seperti politisi pada umumnya, jabatan-jabatan publik yang diamanahkan kepadanya tidak dijadikan lahan meraup kekayaan. Padahal, Mahfud MD paripurna di semua lini trias politica.

Pernah mengisi eksekutif sebagai Menhan dan Menkopolhukam, yudikatif sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, dan legislatif sebagai Anggota DPR RI. Uniknya, ketika ditanya kenapa tidak juga bergelimang harta, Mahfud MD sudah merasa dirinya kaya raya.

“Saya bilang, saya ini kaya raya loh. Saya menjabat 24 tahun dari 1999, Menhan, Menteri Kehakiman, lalu beberapa kali menteri ad interim, Menkomdigi, Menpan-RB, lalu Menko, Ketua MK, di BPIP, gajinya gede-gede lah, pokoknya ditanggung negara semua. Maksud saya, uang itu kan sudah gede banget untuk ukuran saya,” kata Mahfud saat menjadi narasumber di YouTube Syukur Mandar Podcast, Rabu (12/08/2026).

Tapi, lanjut Mahfud, tentu ukuran kaya yang dimaksud tidak bisa dibandingkan dengan politisi-politisi baru seperti Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dan lain-lain. Meski begitu, ia merasa, semua yang didapatnya selama berposisi sudah lebih dari cukup.

Mahfud mempersilakan siapa saja membuka ke publik jika ada pihak-pihak yang selama 24 tahun dirinya berkarir pernah dimintakan sesuatu. Ia berpendapat, itu pula yang membuatnya tidak pernah ragu untuk bersuara karena tidak ada beban politik apa pun.

“Sudah lebih dari cukup, untuk apa saya minta lagi ke orang secara tidak sah, lalu saya simpannya di mana? Kan gitu. Sekarang, saya rumah sudah punya, mobil ya sudah punya, kalau bepergian pakai pesawat juga, sudah cukup kok, tidak perlu sampai beli pesawat untuk apa? Dan saya tidak punya beban apa-apa karena tidak merasa pernah mengambil sesuatu yang tidak sah, baik itu meminta maupun diberikan,” ujar Mahfud.

Ia mengaku lebih suka memberi dibandingkan diberi. Karenanya, setiap kali mendapat amanah untuk mengisi sebuah jabatan publik, setiap bulan Mahfud MD selalu memberi uang pribadi ke Biro Keuangan untuk dipakai jika ada keperluan-keperluan pribadi.

Pun ketika ada keperluan-keperluan untuk istrinya, anak-anaknya, Mahfud membiasakan staf-staf yang menemaninya untuk selalu menggunakan uang pribadi bukan uang negara. Bahkan, ia tidak ragu memecat orang-orang di sekitarnya yang melanggar prinsip itu.

“Tanya aja, ketika saya Menkopolhukam dulu setiap bulan saya kasih uang kepada Biro Keuangan, ini uang pribadi saya kamu pegang, kalau ada keperluan saya pribadi kamu keluarkan dari sini. Kalau keperluan saya kamu ambil dari kantor, saya pecat kamu. Saya titip uang ke dia, setiap bulan lapor berapa uang pribadi istri saya, anak saya, siapa tahu butuh apa-apa di jalan kamu pakai uang ini. Jangan sampai lewat sebulan ketika pembukuan, dan saya merasa tidak hina dan tidak sok,” kata Mahfud.

Pada kesempatan itu, host Syukur Mandar turut mengapresiasi sikap Mahfud MD yang suara kerasnya tidak berkurang walau kerap mengisi etalase pemerintahan. Sebab, ia meyakini, politisi biasanya akan semakin lentur jika sudah berulang kali menjabat.

Selain itu, Mahfud disebut mencontohkan negarawan yang menjaga marwah demokrasi ketika mengundurkan diri sebelum mengikuti Pilpres 2024 agar tidak menggunakan fasilitas negara. Sedangkan, langkah itu tidak dilakukan peserta-peserta lain.

“Saya tidak mau kalau saya ke daerah lalu menggunakan fasilitas negara berkampanye, tidak mau. Pejabat kita malah dijemput ramai-ramai dengan fasilitas pemerintah, dan itu disiarkan tanpa malu-malu di TV. Ketika saya mengundurkan diri juga begitu, Pak (Jokowi) saya tidak enak situasi begini rasanya kalau saya tidak mengundurkan diri perasaan saya tidak enak. Oh tidak Pak Mahfud, yang lain juga tidak mengundurkan diri tidak apa-apa peraturan membolehkan. Saya bilang, saya mundur saja, ya tidak apa-apa, kita tetap hubungan baik ya, begitu Pak Jokowi, iya Pak,” ujar Mahfud. (WS05)