Intelektual, Hamid Basyaib, menyesalkan Presiden Prabowo yang masih tidak berhenti menggunakan kata-kata kasar dalam pidatonya. Termasuk, makian atau cacian ‘goblok’ yang belum lama dilontarkan Prabowo saat melabeli pakar-pakar yang mengkritiknya.
“Kita percaya mereka sekolah ya, baca buku bagus, dan berpengalaman puluhan tahun sebagai pakar, diundang ke luar negeri, sehingga pasti kalaupun mengeritik, pasti dia kemukakan alasan-alasannya yang logic, yang evidence based, ya berdasarkan data dan bukti, jadi tidak sembarangan. Nah, rupanya yang dikecam oleh Pak Prabowo itu kaum pakar yang dikarakternya seperti ini, bukan pakar pada umumnya. Nah, di sini saja sudah meleset,” kata Hamid kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (25/09/2026).
Ia mengemukakan implikasi dari mereka yang mendengar dan tidak mengerti. Misalnya, secara teoritis, dikhawatirkan anak-anak sekolah yang sedang rajin, sedang semangat mengejar cita-cita, mau mendalami satu bidang tapi terhantam keras pidato Prabowo.
“Mungkin mereka goncang dan goyah. Jadi, buat apa saya belajar gitu, misalnya baru tingkat 1 atau SMA kalau ternyata kepakaran yang sedang saya kejar ini dikecam begitu keras, tidak kurang oleh kepala negara saya sendiri, betapa mengecilkan hati itu jadinya. Pertanyaan kita, apakah Pak Prabowo memikirkan hal dampak yang sejauh itu? Saya meragukannya seperti Anda juga semua. Kenapa? Karena ternyata pernyataan-pernyataan semacam ini kan kita tahu bukan baru kali ini sudah sangat sering dia melontarkan istilah-istilahnya Ndasmu dan sebagainya yang betul-betul tidak ada manfaat apapun bagi kepentingan publik, bagi kehidupan dan kesejahteraan rakyat,” ujar Hamid.
Padahal, ia mengingatkan, podium presiden semacam itu adalah sarana yang hebat sekali, kuat sekali, dalam rangka menyampaikan pesan-pesan kebangsaan, pesan-pesan kesejahteraan. Sebab, Hamid menekankan, yang bicara tidak lain kepala negara.
Ia menegaskan, salah satu tugas etis seorang kepala negara membangkitkan semangat, harga diri bangsa, dan daya juang rakyat yang banyak ini. Jadi, ketika tidak diisi menu pemikiran yang baik, ide-ide yang berguna, forumnya jadi tidak banyak berguna.
“Apalagi, kalau kita kaitkan kondisi bangsa kita yang sekarang, tanpa ada survei yang mendetil, kita bisa merasakan denyut itu bahwa sebagian besar masyarakat kita, yang Gen Z lah, yang milenial lah, yang dewasa dan sebagainya itu ada rasa bitter, kepahitan sebagai bagian dari bangsa besar ini. Terasa kita bahwa daya juang kita sebagai bangsa, sebagai negara terus turun. Misalnya, kondisi ekonomi berat sudah beberapa tahun terakhir ya, harga-harga naik dan sebagainya, itu mengecilkan hati kita sebagai anak, sebagai orang tua, memikirkan masa depan anak dan seterusnya,” kata Hamid.
Bagi Hamid, rakyat tidak membutuhkan slogan-slogan atau pernyataan-pernyataan kalau bangsa ini besar. Sebab, tanpa elaborasi yang memadai tentang alasan-alasan untuk optimistis, itu semua sekadar angin lalu atau buih yang tidak menginspirasi publik.
“Nah, saya kira presiden sebaiknya atau seharusnya menyadari ini dan memanfaatkan forum podiumnya itu untuk menyatakan hal-hal yang inspiratif begini,” ujar Hamid.
Ia mengingatkan, negara-negara seperti Cina yang hancur setelah revolusi kebudayaan bisa benar-benar berubah diinspirasi pernyataan-pernyataan Deng Xiaoping. Ada pula Jerman yang mampu menguasai hampir seluruh Eropa dengan bakaran semangat Hitler.
“Bayangkan Jerman itu baru 10-15 tahun kalah hancur dalam Perang Dunia 1, dalam waktu sekian tahun Hitler naik, dia bangkitkan negara. Kita tidak setuju Hitler perilakunya, tapi dalam konteks ini kita harus jujur dan berani mengakui bahwa dia berhasil membangkitkan semangat rakyatnya yang sudah sangat kecil hati karena kalah telak dalam Perang Dunia 1. Dengan pidatonya yang berapi-api, yang teatrical kita sudah tahu, itu bisa muncul masyarakat menyumbangkan panci bekas, segala macam besi tua untuk diubah jadi senjata untuk melawan. Kemudian, dia unggul di hampir seluruh Eropa ditelan oleh Jerman yang benar-benar menakutkan seluruh dunia waktu itu. Padahal, dia bertolak dari kekalahan perang yang besar, kita kagum pada itu sambil mengutuk perilakunya yang kejam luar biasa kepada umat manusia,” kata Hamid.
Pun Jepang, lanjut Hamid, yang hancur setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom nuklir oleh Amerika Serikat (AS). Dalam waktu relatif singkat dia bangkit karena pidato-pidato Kaisar Hirohito mampu menginspirasi rakyatnya, membangkitkan rakyatnya.
Maka itu, Hamid menyesalkan Presiden Prabowo yang masih saja menggunakan podiumnya untuk melontarkan cacian, menyampaikan makian, bahkan memakai diksi-diksi kasar. Ia berharap, Presiden Prabowo segera menyadari itu dan mengembalikan fungsi podiumnya.
“Karena Pak Prabowo tidak bosan-bosan melontarkan statement-statement semacam itu yang tidak inspiratif sama sekali, yang discouraging istilahnya, yang merontokkan semangat bangsanya, maka kita termasuk di forum ini tidak akan bosan-bosan juga. Jadi, mungkin di waktu-waktu mendatang Anda masih akan mendapat suguhan semacam ini yang gunanya cuma satu, yaitu mengingatkan kepada Presiden tentang tugas mulia dan potensinya yang besar sekali untuk mengangkat martabat dan harkat bangsa ini. Dengan salah satu yang penting adalah pidato-pidato yang ternyata di tangan seorang Presiden, di mulut seorang Presiden, itu bukan sekedar penyataan, tapi adalah gumpalan energi penyemangat yang bisa mengubah semangat bangsanya,” ujar Hamid. (WS05)
