Banyak yang belum tahu alasan PDI Perjuangan meminang Mahfud MD sebagai Cawapres di Pilpres 2024 lalu, untuk mendampingi Ganjar Pranowo. Apalagi, sosok Mahfud MD bukan merupakan orang partai, bahkan bukan politisi yang aktif melakukan manuver politik.
Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDIP, Andi Widjajanto, mengungkapkan pertimbangan yang muncul secara internal saat itu. Dimulai permintaan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang meminta Tim 11 menyiapkan nama-nama potensial.
“Atas permintaan Ibu Mega, kami ke Bali. Jadi, kami kira-kira melakukan beberapa triangulasi. Jadi, ada survei, melihat hasil FGD di kampus-kampus dengan pakar-pakar, melihat bagaimana eksposur Pak Mahfud dan kandidat-kandidat yang lain di media sosial, dan seterusnya,” kata Andi kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (26/09/2026).
Setelah itu, Andi menuturkan, tim menyiapkan materi untuk dipaparkan ke Megawati. Ia menyampaikan, pengalaman sejak 2014 membuatnya sudah menduga kalau pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dilontarkan Megawati bukan siapa nomor 1, 2, atau nomor 3.
“Pasti Ibu di kepalanya sudah ada siapa calonnya. Jadi, kira-kira pertanyaan Ibu, apakah nama Prof Mahfud ada di 3 besar yang kalian kaji? Itu saja. Kami jawab, ada, ya sudah. Bahkan, Ibu tidak bertanya nomor 1 siapa, 2 siapa, 3 siapa, pertanyaan Ibu apakah Prof Mahfud ada di 3 besar yang kami kaji? Ya sudah kami jawab, ada, Bu. Kalau Ibu bertanya lebih detail, kami sudah siap dengan data, dokumen,” ujar Andi.
Biasanya, pertanyaan-pertanyaan lebih detail dijadikan telaah akademik sebagai pembanding dengan diskusi-diskusi politik maupun insting politik dari Megawati sendiri. Semua itu dicocokkan dengan kajian akademik ilmiah yang mereka lakukan.
Andi turut berkaca dari Pilpres 2014 maupun Pilpres 2019 yang mereka menangkan. Terlebih, 2014 merupakan pemilu pertama media sosial di Indonesia sejak Pilgub 2012 yang sangat keras, ketika Basuki Tjajaha Purnama dan Anies Rasyid Baswedan.
Maka itu, ia menekankan, tim memikirkan cara-cara agar Pemilu 2024 bisa benar-benar berlangsung dengan membuat demokrasi di Indonesia menguat. Salah satu pilar yang dibutuhkan tentu dari sisi hukum, mengingat Ganjar sudah merupakan orang politik.
“Orang dari luar partai politik, tapi yang akan memberikan semacam pesan kepastian hukum, itu yang kami butuhkan. Ada yang kami pertimbangkan misal calon perempuan, calon pengusaha, dan seterusnya yang jadi karakter yang tidak dimiliki Mas Ganjar. Tapi, karakter utama yang dimiliki Pak Mahfud di 2024, berkaca ke 2014, 2019, atau pilkada-pilkada adalah sosok yang begitu orang lihat, ini kepastian hukum dan demokrasi,” kata Andi.
Pada kesempatan itu, Mahfud MD turut menceritakan kekagetan saat PDIP meminangnya. Mahfud sedang mengisi ceramah di Universitas Airlangga (Unair) ketika ada panggilan telfon dari Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, yang mengundangnya hadir ke Jakarta.
Seperti cerita Andi, Mahfud yang menemui Megawati diminta untuk menjadi Cawapres karena Indonesia sedang butuh penegakan hukum. Bahkan, Megawati meminta Mahfud diminta tidak usah memikirkan uang, dana, atau modal apapun untuk Pilpres 2024.
“Sorenya, Bu Mega terus memberi tahu, Pak Mahfud, katanya, negara perlu sekarang penegakan hukum, demokrasi, konstitusi, dan kami memutuskan untuk minta Pak Mahfud. Saya kaget, saya kan tidak pernah bikin kampanye, bikin baleho, bikin apa, kok jadi saya. Ya negara ini perlu penegakan hukum sekarang, katanya. Yang lebih mengagetkan lagi soal uang, karena waktu itu isunya kalau ingin maju itu triliunan, Bu Mega bilang, Pak Mahfud tidak perlu memikirkan uang. Pokoknya, Pak Mahfud penegakan hukum, demokrasi, ya saya merasa terhormat, tanda tangan saya terima,” ujar Mahfud. (WS05)
