Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengomentari seringnya perbedaan atas apa yang disampaikan Presiden Prabowo dengan apa yang dilakukan bawahannya. Ia berpendapat, salah satu penyebabnya Presiden Prabowo memang memiliki pola pikir seorang tentara.
“Tentara itu yang dikatakan atasan sampai ke bawah ikut. Dia pikir sudah dikatakan ke bawah ikut, ini lain Bung, ini sipil, bukan masyarakat sipil ya, ini kebiasaan pegawai-pegawai sipil, apa yang dikatakan atas belum tentu mengalir,” kata Mahfud saat menjadi tamu dalam podcast Madilog di Forum Keadilan TV, Kamis (21/05/2026).
Mahfud menerangkan, dalam budaya tentara memang apa yang menjadi perintah atasan sudah pasti mengalir sampai ke bawahan yang paling bawah. Itu pula yang membuat korupsi yang dilakukan oknum-oknum di bawah sudah pasti dinikmati pula atasannya.
“Pak Prabowo mungkin merasa saya sudah katakan itu, mesti ke situ. Tapi, nyatanya masyarakat ribut, kan mesti diselidiki karena ini pemerintahan sipil kan kita ini. Dia karena yakin, saya sudah bilang gitu, sudah jalan. Seharusnya ini feedback-nya diambil lagi, itu ada ketidakberesan, itu tidak diambil lagi rupanya,” ujar Mahfud.
Kemudian, ia menduga, Presiden Prabowo memang tidak biasa mengurusi hal-hal detil, sehingga tidak biasa mengecek tindak lanjut dari arahan-arahan yang diberikannya. Selain itu, Mahfud berpendapat, Presiden Prabowo percaya diri kalau dia benar.
Mahfud mengaku tahu betul kalau Presiden Prabowo memang orang yang pintar, pandai, dan memiliki bacaan yang luas. Tapi, ia mengingatkan, itu membuat dirinya lupa bahwa di bawah tidak bisa dikendalikan hanya dengan percaya diri seorang pemimpin.
“Tapi, harus diteliti satu-satu agar sampai ke tingkat rakyat,” kata Mahfud.
Soal jabatan-jabatan struktural yang bisa mengingatkan Presiden, ia merasa, sampai saat ini tidak perlu. Tapi, Mahfud menekankan, yang penting orang-orang sekitar Presiden harus mengerti keperluan rakyat dan memahami pikiran Prabowo itu sendiri.
“Sehingga, sampai ke tingkat rakyat, kan kadang-kadang terputusnya di sini, yang pikiran rakyat dan harapan rakyat itu mandek di sini semua. Sehingga, tanggapannya selalu berbeda dengan fakta, tanggapan Pak Prabowo kan selalu berbeda. Misalnya, ketika ada BGN masalahnya banyak sekali, tapi tanggapannya sederhana,” ujar Mahfud.
Bahkan, lanjut Mahfud, ketika banyak anak-anak keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disampaikan hanya soal berapa yang meninggal atau siapa yang tidak suka MBG. Padahal, ia menambahkan, seharusnya bisa diteliti semua laporan-laporan yang ada.
“Mestinya Istana itu punya penelaah masalah, apa yang diberitakan, mana yang hoaks, mana yang tidak, pasti punya Istana. Sehingga, yang tidak hoaks sampaikan ke Presiden, kalau tidak ya gini-gini terus, dolar akan naik terus, kata Pak Latuhihin bisa sampai Rp 22.000. Sebenarnya ini bisa di atasi, menurut para ahli bisa diatasi, ini bisa disetop kalau Pak Prabowo mau,” kata Mahfud. (WS05)
