Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII), Mahfud MD mengatakan, nilai-nilai integritas yang kerap dipegang insan UII tidak datang tiba-tiba. Ia menilai, itu sudah dilahirkan dan diwariskan sejak lama oleh pendiri-pendiri UII.
“Jadi, UII ini lahir, saya ingin sampaikan Pak, UII ini bukan main-main. Dulu yang meresmikan 8 Juli 1945, 40 hari sebelum Proklamasi itu yang meresmikan Bung Karno. Ketua Yayasan Pertama, Bung Hatta, yang berpidato tentang idealisme UII. Soemitro, bapaknya Prabowo, Dekan Ekonomi pertama UII,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (23/05/2026).
Ia menerangkan, sejak masih bernama Sekolah Tinggi Islam di Jakarta, UII memang dimaksudkan untuk membawa idealisme tentang mencetak kader bangsa, bukan pemimpin Islam. Jadi, Mahfud menegaskan, keindonesiaan maupun keislaman merupakan satu.
“Jadi, tidak mungkin alumni-alumni UII itu merusak tatanan, merusak tujuan dan ketertiban negara ini, cita-citanya tetap Indonesia merdeka. Tetap kita, Bung Karno, Bung Hatta, itu idealismenya tentang Islam menurut Bung Karno dulu, kan sudah dikatakan di situ. Bung Hatta bilang apa, ini Islam harus berkontribusi menyiapkan kader bangsa agar Indonesia maju sebagai negara inklusif,” ujar Mahfud.
Mahfud menilai, keindonesiaan dan keislaman yang dibangun kencang di UII itu turut melahirkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melahirkan sosok-sosok seperti Lafran Pane, Nurcholish Madjid, Mintaredja, Tirtosudiro, Ranuwihardjo, dan lain-lain.
Namun, ia mengingatkan, pernah ada masa ketika sosok-sosok dari UII dikuculkan dari lembaga tinggi negara. Baru sesudah era Reformasi, alumni-alumni UII bisa bermimpi memberikan sumbangsih di lembaga negara karena orang diadu berdasar kapasitasnya.
“Masuk semua, Ketua KY, Ketua MK, saya jadi Menteri Pertahanan, Pak Busyro Wakil Ketua KPK, Pak Parman Ketua KY, ada Artidjo (Alkostar) tiba-tiba jadi hakim agung, dan seterusnya. Dan banyak lalu. Pernah di satu periode, UII itu mendominasi dunia penegakan hukum. Ketua MK-nya saya, Busyro KPK, Artidjo di Mahkamah Agung, Darmono di Kejaksaan, Ifdal Kasim di Komnas HAM, LPSK-nya Haris Semendawai,” kata Mahfud.
Mahfud bersyukur, ketika itu hukum banyak disebut sedang sangat bagus, penegakan hukum maupun pemberantasan korupsi berjalan hebat. Senada, Guru Besar Hukum Hak Asasi Manusia UII, Suparman Marzuki menilai, egaliter dan kritis jadi DNA dari UII.
Ia melihat, hirarki berjalan begitu cair, dosen dan mahsiswa bisa berteman, sikap kritis dipelihara, dijaga, maupun dirawat. Sehingga, UII tidak sekadar melahirkan sarjana, tapi sedang mencetak pemimpin watak yang melahirkan sosok berintegritas.
“Kami ini dibesarkan, diaduk, dikelola, dibentur-benturkan dalam satu institusi yang ingin membangun, menciptakan pemimpin-pemimpin yang berwatak dan berkarakter DNA itu tadi. Saya bisa ketemu Pak Mahfud kapan saja. Kami juniornya Pak Artidjo saya bisa ketemu kapan saja, di mana saja. Pak Busyro apa lagi? Jam 2 malam saya ketuk pintunya, buka, tidak boleh menolak, itu dipelihara lama,” ujar Suparman.
Bagi Suparman, kultur UII itu terbawa ke HMI, membuat mereka dari mana saja bisa bersama. Sosok seperti Mahfud, Syafi’i Ma’arif, Amien Rais, bahkan Mahbub Djunaidi yang lalu mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bisa cair di sana.
UII turut menyadari kalau tidak semua nilai-nilai bisa diajarkan di kelas, sehingga mendukung mahasiswa/i mereka untuk berorganisasi. Hal itu yang membuat dukungan dari UII, termasuk dukungan dana untuk kegiatan-kegiatan organisasi diberikan UII.
“Jadi, ini kekuatan-kekuatan atau nilai-nilai yang menyatukan. Saya tidak tahu ini, ini memang tidak ditransmisikan, tidak diproklamirkan begitu, dia mengalir saja itu sifat egaliternya, sikap kritisnya, dan itu dipelihara dan dijaga,” kata Suparman. (WS05)
