Publik Berharap Menkeu Purbaya Tidak Jadi Balon yang Gelembung Sebentar Lalu Pecah

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, saat hadir di Dies Natalis Universitas Airlangga, Senin (10/11/2025). Foto: Instagram @menkeuri
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, saat hadir di Dies Natalis Universitas Airlangga, Senin (10/11/2025). Foto: Instagram @menkeuri

Hari ini publik Indonesia disuguhi satu jenis pemimpin baru, satu jenis pejabat tinggi negara baru, yang gayanya hampir tidak memiliki preseden. Kebetulan, dia menduduki posisi yang membutuhkan kehati-hatian bicara, pelit informasi, yaitu Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya, Yudhi Sadewa.

Intelektual, Hamid Basyaib menilai, posisi Menkeu menyangkut isu sangat sensitif, yaitu soal ekonomi. Sementara, Menkeu Purbaya kelihatan tidak terlalu pusing soal itu dan membuatnya sangat populer karena lugasnya. Tidak cuma secara umum, lugas menuding perusahaan-perusahaan negara.

“Yang menarik juga bagaimana dia menuding-nuding perusahaan-perusahaan negara yang sebetulnya sudah lama sekali, sudah belasan atau puluhan tahun jadi pertanyaan publik yang hanya bisa terheran-heran. Dia secara spesifik nyebut beberapa nama. Misalnya, PLN, Perusahaan Listrik Negara,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan di program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (17/11/2025).

Purbaya, lanjut Hamid, heran mengingat PLN yang monopoli karena hanya dia yang berhak menjual listrik di Indonesia untuk hampir 300 juta penduduk, tapi bisa rugi. Padahal, tidak ada saingan dari segi bisnis. Kedua, ada Pertamina yang selalu saja mengalami tekor atau keuntungan hanya minimum.

Bahkan, Pertamina yang merupakan perusahaan negara kalah pamor dari merk lain seperti Petronas di Malaysia. Padahal, Petronas praktis tidak punya sumur yang signifikan, tapi makmur dan ekspansi ke banyak negara. Ini menjadi salah satu yang sedang dibidik Menkeu Purbaya untuk dibenahi.

“Dia bilang setelah ngomong penyakit-penyakit BUMN, dia bilang, ini saya penasaran dan saya akan bongkar semuanya,” ujar jurnalis dan penulis senior tersebut.

Hamid menilai, retorik semacam ini menarik sekali dan mudah-mudahan bukan sekadar retorika, tapi substantif. Artinya, langkah Purbaya memang berisi dan memang dibelejeti betul pembukuan perusahaan-perusahaan negara itu.

Sebab, ia mengingatkan, semua itu sebenarnya dibiayai seluruh rakyat Indonesia. Jadi, Hamid menegaskan, seharusnya tidak bisa seenaknya menyatakan satu perusahaan tekor, satu perusahaan rugi, dan sebagianya.

“Saudara, ada tokoh baru ini, kita sambut, dan kita menerimanya dengan tanpa reserve, ya, selalu ada catatan. Kita berharap, dia bukan jadi semacam balon, ya, yang gelembung sebentar lalu pecah,” kata Hamid.

Ia merasa, publik Indonesia ingin sekali kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang. Sebab, sudah terjadi beberapa kali publik mendapatkan tokoh yang begitu prospektif, menimbulkan harapan, tapi ternyata sama.

Menurut Hamid, jika itu terjadi masyarakat itu benar-benar bisa apatis atau sinis melihat ada pemimpin baru yang kelihatan baik. Sebab, publik akan mudah menyatakan kalau orang-orang itu sebentar lagi akan berubah.

“Jangan sampai fenomena Purbaya ini mengalami hal seperti itu. Pak Purbaya, selamat bekerja keras dan lebih keras lagi. Kalau Anda sungguh-sungguh, kita semua pasti mendukung karena kita semua ingin Indonesia ini maju, sejahtera, dan makmur sesuai amanat konstitusi kita,” ujar Hamid. (WS05)