Belum Jadi Anggota Penuh PBB, Perjalanan Palestina Raih Merdeka Masih Panjang

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (25/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (25/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Intelektual, Hamid Basyaib menilai, dukungan dari 157 negara-negara dunia terhadap Palestina yang ditunjukkan di Sidang Umum PBB jadi kabar gembira bagi kemanusiaan. Tapi, Hamid mengingatkan, perjalanan kemerdekaan Palestina masih cukup panjang.

“Karena sampai sekarang Palestina belum bisa menjadi anggota penuh keluarga besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kenapa, diveto oleh Amerika, Amerika adalah salah satu dari pemegang veto di Dewan Keamanan karena keanggotaan harus disetujui lima anggota utama Dewan Keamanan,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (25/09/2025).

Tapi, ia beryukur, ada tiga anggota-anggota Dewan Keamanan PBB yaitu Perancis, Inggris, dan China yang turut memberikan dukungan kepada Palestina. Jadi, Hamid berpendapat, masih ada beberapa tahap yang harus diperjuangkan bangsa Palestina.

Ia berpendapat, itu wajar karena urusan sebesar ini memang tidak mungkin terwujud dalam waktu singat. Meski begitu, Hamid menegaskan, semua ini jadi kabar gembira karena faktanya ada mayoritas negara-negara dunia yang mengakui negara Palestina.

“Yang penting sekarang faktanya adalah de facto mayoritas besar negara di dunia ini mengakui, tinggal de jure-nya nanti dia akan menjadi negara normal yang merdeka,” ujar Hamid.

Hamid turut mengungkap satu ironi dalam pengakuan negara-negara dunia di Sidang Umum PBB. Ia menyampaikan, Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, tidak dapat hadir di New York, Amerika Serikat (AS), untuk menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut.

“Karena Presiden Mahmoud Abbas tidak diberi visa oleh AS, dialah yang menentukan karena New York markas besar PBB ada di Amerika, maka dia yang tentukan apa seorang dapat visa apa, tidak, dalam hal ini Mahmoud Abbas tidak diberi visa entah karena alasan apa, macem-macem alasan bisa dibuat, dia hanya bisa ngelihat dari layar TV,” kata Hamid.

Jadi, ia menyimpulkan, secara umum kita bisa bergembira atas perkembangan ini bukan karena sekadar membela Palestina atau anti Israel. Tapi, Hamid merasa, kemerdekaan Palestina dengan two state solution beri jaminan kesejahteraan bagi Israel sendiri.

Selain itu, pekerjaan rumah Israel dirasa akan lebih banyak berkurang, sehingga tidak lagi banyak terganggu. Sebab, ia menambahkan, negara-negara Arab yang lain sejak lama memang sudah memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan Israel.

“Ada Mesir, Yordania, Arab Saudi juga tidak terlalu hostile, Qatar tidak juga, Yaman, Iraq juga sudah tidak mungkin, tinggal Iran yang paling kuat dan kalau Palestina beres mudah-mudahan semuanya juga beres. Kita membela Palestina dan membela kemanusiaan sekaligus,” ujar Hamid. (WS05)