Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda mengatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menstabilkan harga pakan ternak. Itu dilakukan demi melindungi peternak dalam negeri.
“Sejumlah langkah antisipatif sudah disiapkan mulai imbauan ke industri pakan agar tidak menaikkan harga, pemetaan peternak calon penerima cadangan jagung pemerintah, hingga mempertemukan kelompok tani dengan pemasok jagung,” kata Agung, dikutip Senin (08/09/2025).
Agung menerangkan, ketersediaan jagung untuk pakan ternak kembali jadi perhatian serius seiring lonjakan harga beberapa sentra produksi dalam sebulan terakhir. Kondisi ini berpotensi membebani peternak unggas skala kecil hingga besar.
Kementan melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Badan Pangan Nasional guna menjaga stabilitas pasokan jagung. Langkah ini diperkuat kolaborasi bersama Satgas Pangan untuk memastikan distribusi berjalan lancar.
“Serta, mencegah praktik penimbunan jagung oleh oknum pengepul maupun pedagang yang merugikan peternak,” ujar Agung.
Agung menegaskan, langkah antisipatif diambil agar pasokan jagung tetap stabil, sehingga biaya produksi pakan tidak melonjak tinggi. Sehingga, masyarakat tetap dapat mengakses pangan asal unggas dengan harga yang tetap terjangkau.
Selain itu, Kementan melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha. Langkah ini drasa penting untuk merumuskan solusi bersama dalam menghadapi persoalan lonjakan harga jagung di lapangan.
Data Panel Harga Bapanas pada Minggu (07/09/2025), harga jagung tk peternak tingkat konsumen Rp 6.602 dari sebelumnya Rp 6.623 per kilo. Sedangkan, harga jagung pipilan kering di tingkat produsen Rp 5.511 dari sebelumnya Rp 5.500 per kilogram. (Antara/WS05)
