Arti dan Sejarah ACAB atau 1312, Coretan yang Banyak Muncul Selama Demonstrasi

Salah satu coretan ACAB atau 1312 yang paling populer selama gelombang demonstrasi di Indonesia. Foto: Istimewa
Salah satu coretan ACAB atau 1312 yang paling populer selama gelombang demonstrasi di Indonesia. Foto: Istimewa

Tulisan ACAB atau 1312 banyak bermunculan selama gelombang protes yang terjadi beberapa Waktu terakhir di Tanah Air. Tulisan itu terpampang lewat coretan-coretan tembok atau poster-poster yang dibawa demonstran.

Intelektual, Hamid Basyaib mengatakan, ACAB atau 1312 yang jadi urutan alfabet dari ACAB merupakan kepanjangan dari all cops are bastards. ACAB merupakan kecaman yang sangat keras terhadap tindakan kepolisian.

“Slogan ACAB atau 1312 yang tercatat itu sejarahnya di Inggris kira-kira awal abad ini, lalu tahun 1920-an mulai naik lalu redam tidak ada lagi terdengar, lalu tahun 1950an di Inggris muncul lagi biasanya itu terkait dengan gejolak sosial, ada demonstrasi, ada pemogokan buruh,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (08/09/2025).

Biasanya, lanjut Hamid, polisi dianggap represif dan menindak melewati batas kewajaran atau batas yang dibolehkan UU dan memakai kekerasan. Sempat redam, lalu muncul lagi pada 1980-an dan 2000-an akhir.

Kemudian, di AS Ketika muncul gerakan bertajuk Black Life Matters, ACAB Kembali bermunculan. Terbaru, saat gelombang protes di Indonesia slogan ACAB muncul lagi melalui poster-poster atau coretan-coretan di dinding.

“Fernand Braudel, sejarawan Perancis bersama grupnya di Perancis tahun 50-60an, mereka mengajukan satu teori yang disebut Histoa Mentalite, coretan-coretan di dinding seperti ACAB kemarin atau 1312 kemarin itu bukan suatu keisengan atau suatu coretan-coretan yang tidak bermakna,” ujar Hamid.

Bagi Braudel dan sejarawan Perancis, itu mencerminkan satu sikap mental atau aspirasi mental atau keinginan tertentu yang diekspresikan dengan cara itu. Sama posisinya seperti patung-patung yang dibuat pemerintah.

Artinya, kemunculan slogan-slogan itu sama yaitu pesan tertentu kepada masyarakat. Bung Karno misalnya, membangun Monumen Nasional dengan emas di atasnya untuk menyatakan sesuatu kepada rakyatnya dan warga dunia.

“Jadi, ACAB ini juga begitu rupanya, jadi mereka mau berpesan bahwa musuh kita itu atau yang harus kita lawan adalah polisi,” kata Hamid.

Tidak bisa diprediksi apakah ACAB atau 1312 ini akan muncul lagi di masa depan atau hanya muncul dalam demo-demo seperti kemarin. Bagi Hamid, yang terpenting itu harus jadi alarm perbaikan bagi polisi.

“Tapi, apa pun itu bagi hemat saya itu adalah teguran atau ekspresi ketidakpuasan atau kejengkelan publik terhadap kinerja polisi,” ujar Hamid. (WS05)