Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus kembali digelar. Setelah sukses dihelat di Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Jawa Barat, kali ini Terus Terang dihelat di Universitas Islam Indonesia (UII), Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (19/05/2026).
Terus Terang Goes to Campus kali ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Mahfud MD, Rocky Gerung, Okky Madasari, Suparman Marzuki, sampai Tiyo Ardiyanto sebagai narasumber. Dihadiri hampir seribuan mahasiswa/i maupun aktivis Yogyakarta.
Acara dibuka puisi menggugah hati berjudul ‘Republik Rem Blong’ dibacakan Rektor UII, Fathul Wahid. Diskusi dipandu host Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Offiical, Rizal Mustary, yang memulainya dengan membacakan 6 agenda Reformasi.
Tuan rumah Terus Terang, Mahfud MD, menyampaikan kekhawatiran yang ada di publik tentang cara kita berhukum yaitu adanya autocratic legalism. Itu merupakan satu kudeta pelan-pelan terhadap demokrasi, tapi melalui cara-cara membuat hukum.
“Jadi, hukum itu dibuat misalnya untuk melegalkan korupsi. Jadi, orang korupsi itu menjadi sah karena aturannya dibuat terlebih dulu, itu yang sekarang dikhawatirkan orang,” kata Mahfud di UII dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Kamis (21/05/2026).
Kemudian, kekuatan-kekuatan politik yang bisa membuat hukum bergabung di DPR maupun partai-partai politik dikooptasi terlebih dulu. Selain itu, dilakukan dengan cara berkolusi terlebih dulu bersama-sama dan dibuat aturan-aturan yang merusak hukum.
Sehingga, semua kesalahan itu seakan memiliki pembelaan karena ada aturan-aturan yang sudah dibuat. Di Indonesia, ia melihat, publik sudah mendiskusikan di kampus-kampus soal terjadi pembuatan aturan-aturan yang direkayasa sedemikian rupa.
Bahkan, lanjut Mahfud, kalau bisa sembunyi-sembunyi agar sesuatu yang salah itu ada aturannya. Tapi, kalau tidak bisa dibuat, aturan yang ada diubah secara diam-diam, dan jika tidak bisa akan diuji ke Mahkamah Konstitusi (MK) melalui judicial review.
Mahfud turut mengingatkan pesan Bung Hatta agar kita hati-hati dengan demokrasi. Sebab, ia menekankan, banyak pengalaman bangsa-bangsa itu demokrasi digunakan untuk membunuh demokrasi. Membuat konfigurasi otoriter tapi melalui proses demokratis.
“Itu terjadi ketika Hitler berkuasa, dia ikut pemilu dapat kursi sedikit, bergabung dengan partai yang kecil, jadi besar, semuanya lalu diteror, jadilah dia penjahat paling besar menggunakan proses demokrasi, menggunakan proses konstitusi. Saudara, nauzublillahiminzalik, ini jangan sampai terjadi di Indonesia,” ujar Mahfud.
Acara berlangsung 2 jam lebih dengan diskusi yang terjadi secara atraktif. Diskusi tidak hanya melibatkan narasumber di atas panggung, tapi turut melibatkan tokoh-tokoh, maupun mahasiswa/i dan aktivis-aktivis yang hadir di halaman Fakultas Hukum UII tersebut.
Turut hadir tokoh-tokoh seperti GBPH Prabukusumo, Arie Sujito, Amirrudin Al Rahab, Ari Yusuf Amir, Islah Bahrawi, Erwin Moeslimin, dan Hamid Basyaib. Acara ditutup dengan memukau lewat pembacaan puisi yang disampaikan seniman Butet Kertaredjasa. (WS05)
