PSSI resmi mengumumkan Patrick Kluivert sebagai pelatih timnas Indonesia, menggantikan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae Yong. Pengamat sepak bola dan Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, mengaku tidak setuju dengan penunjukkan Kluivert karena pengalamannya yang minim sebagai pelatih.
“Kalau saya secara pribadi, secara pribadi saya tidak setuju karena Patrick Kluivert itu Curriculum Vitae-nya tidak meyakinkan sebagai pelatih, sebagai pemain iya, dia sangat luar biasa, legendaris, bahkan masuk dalam daftar top scorer sepanjang masa Belanda, tapi sebagai pelatih, Curriculum Vitae-nye belum,” kata Akmal dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (08/01/2024).
Akmal menuturkan, Patrick Kluivert sebagai pelatih memang sudah cukup lama melatih yaitu sejak 2008. Tapi, ia mengingatkan, mengukur prestasi seorang pelatih sepak bola perlu dilihat dari raihan trofi sebagai pelatih dan Patrick Kluivert sampai hari ini belum pernah memenangkan trofi apapun sebagai pelatih.
Jika harus memilih pelatih dari Belanda, Akmal mengaku lebih memilih nama-nama pelatih lain yang jauh lebih mentereng raihan prestasinya sebagai pelatih dibanding Kluivert. Antara lain pelatih legendaris Guus Hiddink atau sosok yang sebenarnya sudah cukup dekat dengan Indonesia yaitu Giovanni van Bronckhorst.
“Kalau harus Belanda, saya pilih Guus Hiddink, Gus Hiddink dulu pernah bawa Korea Selatan jadi semi-finalis Piala Dunia. Tapi, kalau mau yang muda ada Giovanni van Bronckhorst, dia punya darah Maluku,” ujar Akmal.
Untuk Hiddink, Akmal menuturkan, diperlukan karena masalah utama STY dan pemain-pemain timnas merupakan komunikasi. Pada Piala Eropa 2008, ketika Hiddink jadi pelatih Rusia, Akmal menyaksikan langsung Hiddink yang menguasai 25 bahasa mampu berkomunikasi dengan berbagai bahasa dunia.
Sedangkan, untuk van Bronckhorst, pada Piala Dunia 2010, Akmal mendapatkan kesempatan bertemu langsung van Bronckhorst dan dijamu ibunya yang malah memang bisa Bahasa Indonesia. Bahkan, pada 2011 lalu, van Bronckhorst sudah pernah membuat Giovanni van Bronckhorst Foundation di Indonesia.
“Artinya, punya kedekatan juga dengan Indonesia. Tapi, Giovanni van Bronckhorst ya mungkin secara harga tidak cocok, apalagi dia sekarang sedang melatih klub besar (Besiktas, Turki),” kata Akmal.
Sekalipun tidak sepakat dengan penunjukkan Patrick Kluivert, Akmal mengingatkan, ini sudah merupakan keputusan yang dibuat PSSI dengan resiko-resiko yang pasti sudah pula dipertimbangkan mereka sebagai federasi. Sayangnya, serangan-serangan pendukung Shin Tae Yong kepada Kluivert mulai tidak masuk akal.
Misalnya, mempermasalahkan dan menyebarluaskan latar belakang Patrick Kluivert yang pernah memiliki catatan perdujian. Padahal, ia menerangkan, sudah jelas hukum di Indonesia dan di Belanda memang berbeda, serta perjudian memang dilegalkan dan bukan sesuatu yang dilarang untuk dilakukan di Belanda.
Meski begitu, Akmal turut mengungkapkan kekhawatiran jika Kluivert yang berasal dari Belanda hanya memberi ruang bagi pemain keturunan Belanda dan menutup ruang bagi pemain lokal. Karenanya, ia mendukung Erick Thohir untuk mendatangkan asisten-asisten berprestasi yang dekat dengan Indonesia.
“Katanya, rencananya Pak Erick Thohir itu selain mendatangkan Kluivert, Denny Landzaat asistennya, Denny Landzaat ini ibunya orang Maluku, punya darah Indonesia. Kemudian, ada Alex Pastoor, ini ahli strategi, dia bawa tiga tim promosi ke Eredivisie, dan bagus, terakhir ada Almere City. Kemudian, nanti Erick Thohir akan menambahkan pelatih dari Indonesia dua untuk belajar di sana,” ujar Akmal. (*)
