Gubernur Jawa Timur terpilih yang merupakan orang kepercayaan Presiden Gus Dur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan satu peristiwa sejarah yang selama ini disimpan rapat-rapat. Yaitu, tentang Khofifah yang membakar surat pengunduran Gus Dur dari Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Kejadian itu terjadi tepat pada saat Gus Dur berangkat ke Baltimore, AS, untuk mendapatkan perawatan. Saat itu, setelah mengantar Gus Dur ke Ruang VIP Soekarno Hatta (Soetta), Khofifah diminta seseorang untuk menemui orang tersebut karena ada pesan tertulis atau surat yang disampaikan oleh Gus Dur.
“Kemudian, setelah dari Soetta, sore kita melepas Gus Dur, kemudian saya datang ke tempat orang yang menyampaikan ini ada pesan dari Gus Dur, tertulis, saya rasa yang menulis orang lain, tapi yang tanda tangan Gus Dur. Sebenarnya, Gus Dur sudah mengundurkan diri waktu itu, sudah mengundurkan diri,” kata Khofifah dalam acara Ruang Sahabat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (5/12/2024).
Namun, setelah menerima surat itu, Khofifah memutuskan meminjam korek api kepada seseorang yang ditemuinya itu, lalu membakar surat pengunduran diri Gus Dur dari Dewan Syuro PKB. Ia menekankan, ini merupakan cerita yang tidak pernah diungkap sama sekali dalam forum apapun dan kepada siapapun.
“Saya berdua sama Bapak itu saya bilang, untuk kebaikan semuanya, saya minta korek api, saya bakar surat itu, ini baru pertama kali saya menyampaikan, surat saya bakar, setelah surat saya bakar saya ambil serpihan dari kertas-kertas itu, terus saya taruh di vas begini, saya campur dengan tanah di vas, sudah,” kata Khofifah.
Kepada Ruang Sahabat, Khofifah menyampaikan, keputusannya membakar itu karena rasa sayangnya kepada Gus Dur dan PKB. Sebab, ia meyakini, jika saat itu kabar Gus Dur mengundurkan diri dari PKB tersebar, sudah hampir pasti PKB akan bubar. Apalagi, Gus Dur merupakan pendiri sekaligus pemilik PKB.
“Kalau itu sampai tersiar, bubar PKB. Sudah saya bakar, saya taruh di vas, sudah, saya tidak cerita kepada siapapun dan kepada orang ini saya bilang, sudah ya, hanya ke panjenengan untuk kebaikan bersama,” kata Khofifah yang merupakan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan di era Presiden Gus Dur.
Apa yang diungkapkan Khofifah untuk pertama kali itupun mengonfirmasi cerita Mahfud MD yang saat itu diminta langsung oleh Gus Dur untuk masuk PKB, tepatnya sebelum berangkat ke AS untuk mendapat penanganan medis. Mahfud menyampaikan, dirinya diminta Gus Dur masuk PKB untuk memajukan PKB.
Permintaan itu disampaikan Gus Dur setelah lengser. Mahfud sendiri, setelah tidak menjadi Menteri Pertahanan, berencana pulang kampus. Karenanya, Mahfud menolak karena waktu itu dirinya sudah merupakan Guru Besar Tata Negara dan setelah tidak di kabinet berencana mengajar lagi di kampus.
Namun, setelah beberapa kali menolak, Mahfud akhirnya menyampaikan kepada Gus Dur kalau dirinya mau masuk ke PKB asalkan Gus Dur tetap di PKB. Sebab, sebelum berangkat ke AS, Gus Dur sendiri memang sudah sempat menyampaikan keinginannya untuk mundur dari PKB kepada Mahfud.
“Jadi confirm kan bahwa Gus Dur pernah bilang ke saya dan mungkin ada rekayasa itu, iya saya mau mundur saja, terus saya telfon waktu di Amerika, Gus Dur bilang mau mundur, Pak Mahfud kamu masuk PKB saja biar PKB maju,” ujar Mahfud yang menolak masuk PKB jika Gus Dur mundur dari Dewan Syuro.
Seperti Khofifah, Mahfud meyakini, PKB sudah hampir pasti bubar saat itu jika semua orang tahu kalau Gus Dur sudah mengundurkan diri. Karenanya, Mahfud bersikukuh, dirinya akan masuk PKB jika Gus Dur tetap jadi Dewan Syuro, yang dalam budaya PKB sendiri merupakan pemilik atau penentu arah partai.
“Saya berpikir begitu, Gus kalau Gus Dur mundur dari PKB saya tidak mau masuk, pasti bubar PKB, saya bilang, kalau Gus Dur mundur saya tidak masuk PKB,” kata Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur itu. (*)
