Wakil Presiden RI periode 2004-2009 dan 2014-2019, Jusuf Kalla (JK), mengungkapkan drama 2019 tentang batalnya Mahfud MD menjadi wakil presiden dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Terutama, di detik-detik akhir ketika Jokowi datangi kantor JK untuk menanyakan siapa yang cocok mendampinginya.
Kepada Jokowi, JK menyampaikan, jangan bicara orang terlebih dulu, tapi bicarakan saja kriteria yang diinginkan. Saat itu, Jokowi menyampaikan, dirinya ingin orang yang pintar, orang Nahdlatul Ulama (NU) dan memiliki pengalaman yang baik dan tidak ada cela. Mendengar itu, JK mengusulkan Mahfud MD.
“Saya bilang, kalau begitu Pak Mahfud yang memenuhi syarat, pintar, dia orang NU, orang Madura kan semua NU, kemudian kalau ini baik dan tidak ada cela. Oke, setelah diskusi hampir 2 jam diputuskan, kalau begitu Pak Mahfud, saya bilang kalau begitu kita jabat tangan dulu, iya dengan Pak Jokowi, berdua ini,” kata JK saat menjadi tamu acara Ruang Sahabat di kanal YouTube Mahfud MD, Jumat (22/11/2024).
Perbincangan yang terjadi pada 9 Agustus 2019 siang sekitar pukul 14.00 ditutup makan siang. Setelah itu, Jokowi meminta JK untuk menemaninya mengumgumkan, namun ditolak karena JK lebih memilih di rumah menyaksikannya lewat TV. Kemudian, JK menelfon Karding (Sekjen PKB) dan membicarakan itu.
Tapi, JK kaget, Karding menyampaikan kalau nama yang akan diumumkan berbeda. Padahal, Mahfud MD sudah diputuskan setelah diskusi dua jam JK bersama Jokowi. Bahkan, Mahfud sudah diberitahu untuk siap-siap. Ternyata, lanjut JK, beberapa partai tidak setuju kalau Mahfud MD yang mendampingi Jokowi.
“Eh, ternyata Pak Kyai, Pak Kyai orang NU, pintar juga, pintar dari sisi lain, bukan pemerintahan, sisi agama. Tapi, saya yakin nanti tidak lincah ini Wapres membantu, membantu, mendampingi kalau perlu juga menjaga supaya tidak kena masalah, ah itu sejarahnya kenapa tidak jadi, padahal saya yakin di putusan terkahir itu di kantor saya, dan pakai jabat tangan, pakai pelukan,” ujar JK.
Setelah pengumuman itu, JK langsung menelfon Mahfud dan ini dibenarkan oleh Mahfud. Menurut Mahfud, JK memang orang pertama yang menghubunginya sesudah pengumuman dan mengaku juga kaget mengingat perbincangannya dengan Jokowi sudah diputuskan nama Mahfud MD yang maju.
“Pak JK orang pertama yang menelfon saya sesudah pengumuman, Pak Mahfud katanya, saya kaget ini tadi saya sudah salaman dengan Pak Jokowi, Pak Mahfud yang jadi katanya, kok tidak. Ya sudah Pak, ini sudah apa saya bilang, kan ini politik, bisa berubah tiba-tiba dan betul sesudah itu saya dipanggil Pak Jokowi,” kata Mahfud.
Dalam pertemuan, Jokowi menjelaskan kepada Mahfud kalau dirinya memang sudah memilihnya, tapi ditolak partai-partai pendukung. Tapi, Jokowi meminta Mahfud tetap bersamanya. Bagi Mahfud, itu sudah selesai dan sekalipun kaget dirinya sama sekali tidak merasa dirugikan, apalagi dipermalukan.
“Saya merasa biasa saja ketika diberi tahu oleh Pak Jokowi, saya tadi Pak Mahfud sebenarnya, dan sudah didasarkan pertimbangan, sudah ngomong sama teman-teman, tapi saya bilang begini, loh kenapa saya mau jadi Wapres toh saya tidak pernah melamar, tidak pernah minta, saya dipanggil datang, menyiapkan baju dan sebagainya, kemudian tidak jadi, ya mungkin saya agak kaget, kecewa benar sih tidak,” ujar Mahfud.
Sebab, Mahfud mengingatkan, dirinya hanya tidak jadi, artinya memang belum jadi, bukan dijatuhkan. Ini beda kondisi dengan orang-orang yang kehilangan posisinya seperti Bung Karno, Pak Harto atau Gus Dur misalnya, yang sudah menjadi Presiden lalu dijatuhkan. Bagi Mahfud, dirinya tidak kehilangan apa-apa.
“Saya tidak kehilangan apa-apa, cuma orang menganggap, sehingga saya pada waktu itu sebenarnya sudah, itu kan diberikan oleh Tuhan, garis tangan kan, sehingga saya merasa baik sesudah itu, dengan Pak Jokowi juga, dengan teman-teman yang lain juga, sampai Pak Jokowi terpilih dan akhirnya sesuai yang dikatakan Pak Jokowi nanti tetap bersama saya, saya terus jadi Menkopolhukam itu,” kata Mahfud. (*)
