Sikap Damai Indonesia Bisa Jadi Sumbangan Besar untuk Umat Manusia

Cendekiawan, Hamid Basyaib mengatakan, umat manusia memang sudah harus semakin dewasa. Sebab, setidaknya sudah dua kali umat manusia mengalami pengalaman Perang Dunia yang begitu merobek kemanusiaan. Jadi, percaturan politik global seharusnya sudah tidak boleh lagi mengarah ke peperangan.

Ia menyayangkan, manusia malah menjadi satu-satunya mahluk yang mau menghancurkan dunianya sendiri, sesuatu yang bahkan binatang sebuas apapun tidak pernah begitu. Padahal, kemajuan sains, kemajuan teknologi, seharusnya sudah membuat manusia sebagai satu kesatuan dapat bersatu.

“Jadi, saya berharap Indonesia di masa Pak Prabowo ini dan mungkin selanjutnya, bergeraknya ke arah sana, jangan ikuti logika kekuatan militer mana-mana,” kata Hamid dalam podcast Pojok Keramat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Jumat (21/11/2024).

Bagi Hamid, militer cukup dipersiapkan dengan kemampuan atau kapasitas minimum saja dalam rangka memenuhi formalitas sebuah negara. Tapi, secara umum diplomasi kita semua sekaligus gerak kita adalah menuju perdamaian dunia, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar kita sendiri.

“Kita harus konsisten dulu dan saya kira dalam soal ini kalau berhasil itu sumbangan Indonesia yang sangat besar bagi kesejahteraan umat manusia,” ujar jurnalis dan penulis senior tersebut.

Indonesia, lanjut Hamid, tidak perlu memikirkan hal-hal lain sebagai sumbangsih kepada warga dunia karena Indonesia memang tidak dapat memberikan sumbangan apa-apa. Karenanya, ia menekankan, sikap damai yang dimiliki Indonesia sudah seharusnya bisa disumbangan kepada warga dunia.

“Saya kira sumbangan Indonesia untuk umat manusia di dunia adalah sikap damainya, mari kita bergerak ke arah sana,” kata Hamid.

Terkait kebijakan luar negeri, peneliti dari CSIS, Pieter Pandie berharap, Presiden Prabowo dari segi politik luar negeri dapat terlebih dulu mencari niche atau ceruk yang memungkinkan dikembangkan Indonesia. Pieter mencontohkan ‘Poros Maritim Dunia’ yang sempat digagas Presiden Joko Widodo.

“Misal, pas Pak Jokowi pertama, satu national identity, grand strategy yang ingin diterapkan Pak Jokowi itu poros maritim dunia,” ujar Pieter.

Artinya, Indonesia sebagai negara yang memiliki identitas sebagai negara archipelagic, dapat fokus kepada maritim sebagai poros yang mengoneksi lautan Hindia Selatan. Meskipun, Pieter melihat, pada periode Presiden Jokowi yang kedua sudah cukup jarang ‘Poros Maritim Dunia’ disebutkan Jokowi.

Menurut Pieter, ceruk itu harus dibangkitkan kembali, tapi tidak harus dalam bentuk poros maritim dunia. Justru, ia menyampaikan, identitas nasional atau ceruk yang berbeda dapat kita tentukan sebagai sesuatu yang ingin kita ambil dan kita komunikasikan kepada dunia. Salah satunya dari segi perdamaian.

“ Sebagai negara middle power, negara berkembang yang ingin suatu hari menjadi negara besar, kita harus mencari niche-nya itu tuh apa,” kata Pieter. (*)