AS Hikam Nilai Gerindra Bingung Hadapi Conundrum Politik Saat Ini

prabowo subianto
Prabowo Subianto saat mengunjungi Jawa Tengah. [foto : twitter/prabowo]

Inisiatifnews – Akademisi dari President University, Muhammad AS Hikam menilai bahwa partai politik koalisi di Koalisi Indonesia Adil Makmur sudah tampak semakin keropos. Hal ini dilihat Hikam dengan sikap Partai Amanat Nasional (PAN) yang ternyata sudah tidak sejalan dengan narasi mantan Ketum mereka yakni Amien Rais yang berencana menggelar gerakan people power.

“PAN kini pecah antara kubu Amien Rais (AR) dengan kubu Zulhas terkait dengan manfaat people power. Trennya kubu Zulhas yang menolak gagasan tersebut kini lebih kuat dan AR makin cenderung sama dengam Habib Rizieq dan kawan-kawan,” kata Hikam dalam siaran persnya, Senin (6/5/2019).

Bacaan Lainnya

Sementara itu partai Demokrat yang dipimpin oleh mantan Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga sudah memunculkan gelagat yang tidak lagi sejalan dengan Prabowo secara personal sebagai Capres. Hal ini dikatakan Hikam bisa dilihat bahkan sejak sebelum pencoblosan 17 April 2019.

“Partai Demokrat (PD) makin bersikap kritis terhadap sikap Prabowo Subianto dan koalisi 02 setelah SBY melontarkan ketidakpuasannya dengan model kampanye Prabowo Subianto yang dianggapnya tak lazim dan berpotensi inkonstitusional, sebelum pencoblosan,” paparnya.

Ditambah lagi kemesraan Agus Harimurti Yudhoyono dengan Istana juga menjadi indikasi yang bisa dibaca secara politis bahwa kemesraan di koalisi Indonesia Adil Makmur pun perlu disangsikan.

“AHY yang merupakan proxy SBY semakin lengket dengan Istana dan tampaknya hanya soal waktu saja pengumuman bahwa Partai Demokrat akan meninggalkan kubu koalisi oposisi tersebut,” sambungnya.

Di sisi yang lain, Mardani Ali Sera sebagai Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga mendadak menyuarakan pengharaman penggunaan narasi Ganti Presiden usai pencoblosan Pemilu 2019.

“PKS yang pragmatis tak mau kehilangan momentum dengan lebih fokus pada positioningnya di DPR dan tak lagi mau habis-habisan memerjuangkan Prabowo Subianto. Karenanya tagar #2019GantiPresiden pun sekarang dianggap sudah tak relevan lagi,” tutur Hikam.

Dengan beberapa alasan itu, pengamat politik senior ini pun menilai bahwa saat ini Gerindra sedang bingung dengan teka-teki narasi yang akan dibangun di momentum pemilu saat-saat ini.

“Tinggallah Gerindra yang bingung menghadapi conundrum politik tersebut. Di satu pihak perolehan dalam Pileg sangat bagus bagi Gerindra tetapi jika partai ini tak fokus kepada dukungan habis-habisan terhadap Prabowo Subianto, bisa kena marah sang boss,” jelasnya.

Di sisi lain, ada kekuatan Islam politik non partai yang ikut dalam rombongan gerbong koalisi Prabowo-Sandi, dimana ada Persaudaraan Alumni 212 (PA212) pimpinan Slamet Maarif dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF) pimpinan Yusuf Muhammad Martak, serta Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Ahmad Sobri Lubis yang dikomandoi langsung oleh Habib Muhammad Rizieq bin Shihab.

Ketua Umum DPP Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif berorasi di depan rumah Prabowo Subianto di Kertanegara. [foto : Inisiatifnews]

Jika para partai koalisi Indonesia Adil Makmur itu tunggang-langgang, maka potensi besar yang akan mendominasi kekuatan Prabowo-Sandi adalah kelompok Islam politik itu.

“Dengan makin menjauhnya Partai Demokrat dari koalisi maka kubu 02 akan rentan didominasi oleh kelompok Islam politik. Padahal habitat dan karakter Gerindra, seperti juga Partai Demokrat adalah partai nasionalis,” paparnya.

Untuk itu, AS Hikam pun memberikan saran kepada Prabowo agar berfikir lain yakni bagaimana menyelamatkan partai Gerindra dibandingkan membiarkan gerakan Islam politik yang disebutnya itu malah menjadi penumpang utama dalam gerakan Prabowo-Sandi.

“Bagaimana keluar dari conundrum politik ini? Prabowo Subianto mestinya perlu lebih mementingkan masa depan Gerindra dalam kancah politik nasional ketimbang membiarkan partai yang semakin berpotensi sebagai kekuatan politik populis di masa depan itu dijadikan alat untuk memperkuat kelompok Islam politik,” tutupnya.

[NOE]