Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, membagikan salah satu cerita lucu yang muncul di tengah masyarakat pada periode akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto. Walau jelas fiktif, cerita ini cukup menggambarkan perasaan masyarakat pada waktu itu.
“Jadi, waktu itu, ini jokes menjelang jatuhnya Pak Harto, jalan-jalan Pak Harto naik helikopter di Wonogiri, helikopternya jatuh, menterinya meninggal semua, tinggal Pak Harto terengah-tengah, ditolong orang desa sampai selamat,” kata Mahfud dalam YouTube komika Ben Dhanio, Monday Show With Me Ben, Kamis (16/04/2026).
Sesudah selamat, lanjut Mahfud, Pak Harto mengucapkan terima kasih dan bertanya siapakah nama penolongnya tersebut. Penolongnya itu ternyata seorang petani yang bernama Bejo, dan merasa ikhlas menolong tanpa peduli siapa yang ditolongnya.
Kemudian, Pak Harto yang ditolong tentu saja merasa bersyukur dan menawarkan kepada petani yang menolongnya itu untuk menyebutkan permintaan. Bahkan, Pak Harto turut menekankan, petani itu boleh meminta apa saja dan pasti akan bisa dikabulkan.
Mendengar itu, petani itu bingung kenapa orang yang ditolongnya mengaku bisa mengabulkan apa saja. Setelah menanyakan dan mengetahui yang ditolongnya merupakan Presiden Indonesia, Soeharto, petani itu menyampaikan permintaan yang mengejutkan.
“Memang Bapak bisa memberi apa? Apa saja. Kamu minta rumah, minta mobil, minta apa, saya kasih. Memangnya Bapak siapa kok bisa memberi sesuatu? Saya Soeharto. Saya minta satu saja, Pak, jangan bilang-bilang bahwa saya yang nolong Bapak, saya bisa dibunuh orang kalau orang tahu bahwa saya nolong Bapak, dibunuh orang kampung,” ujar Mahfud, menceritakan jawaban petani itu kepada Pak Harto.
Mahfud mengingatkan, cerita-cerita lucu atau cerita-cerita rakyat seperti itu banyak beredar menjelang jatuhnya Pak Harto. Hal itu dikarenakan kejenuhan dari masyarakat yang sudah tidak ingin dipimpin oleh Pak Harto sebagai Presiden RI.
Cerita ini turut menjadi contoh bagaimana zaman dulu pemerintah saat itu, yang otoriter, menanggapi lawakan-lawakan. Artinya, pemerintah tidak mudah marah, tidak mudah mengancam, termasuk atas kritik yang disampaikan lewat seni seperti lawak.
“Itu beredar di kalangan dosen-dosen karena waktu itu orang sudah begitu jengahnya dengan situasi pemerintahan yang penuh KKN saat itu, KKN, hipokrit, macam-macam. Berbagai cerita muncul tentang Istana dan itu banyak sekali cerita. Nah, yang begitu itu, masa mau dipidanakan? Kalau mau dipidanakan itu banyak,” kata Mahfud. (WS05)
