Generasi Milenial dan Jurnalis Wajib Tangkal Penyebaran Berita Hoaks

Sayid Iskandarsyah
Ketua PWI Jaya, Sayid Iskandarsyah. [foto : Inisiatifnews.com]

Inisiatifnews.com – Perkembangan dunia digital dinilai sebagai pemicu maraknya berita bohong. Merosotnya media cetak dibanding dengan media digital juga menjadikan informasi mudah disebar lewat sosial media.

Publik diimbau rajin memverifikasi dan mengidentifikasi berita dan informasi yang ada. Pengujian informasi harus didasarkan pada kebenaran fakta yang ada bukan hanya opini yang tidak jelas keasliannya. 

Bacaan Lainnya

“Media sosial adalah wahana yang siapa saja bisa berpartisipasi dalam menyampaikan berbagai informasi. Ini menjadikan tidak adanya pengawasan berita hoaks yang mengganggu kehidupan masyarakat,” kata Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, Sayid Iskandarsyah saat diskusi bareng media massa bertajuk Peran Nyata Jurnalis dan Milenialis Dalam Menangkal Hoax di Gado-Gado Boplo, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2020).

Sayid menambahkan, keberadaan pers mestinya jadi wahana untuk mencari kebenaran. Sebab, dalam mekanismenya, untuk mencari sebuah berita, melalui proses verifikasi yang tertib. Pers juga sebagai sistem berbadan hukum untuk menyajikan informasi yang akurat.

“Hoaks merupakan hal yang harus dicegah oleh siapapun. Dengan adanya Dewan Pers, berita yang tak bertanggungbjawab dapat diminimalisir. Kaidah jurnalistik harus bisa diimpelementasikan dengan bijak agar jurnalistik bias dipercaya oleh masyarakat. Media wajib mengoreksi jika berita yang disampaikan itu adalah hoaks. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk bisa menyampaikan informasi yang benar,” tuturnya.

Untuk mencegah hoaks di era banjir infromasi ini, kaum milinial lah yang paling berperan. Mereka yang sehari-hari menggunakan akun media soial untuk berbagi informasi.

“Dengan cara sebarkan informasi berdasarkan pada fakta dan realita yang ada. Inilah tugas kaum mileial dalam menangkal hoaks yang terus saja beredar,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ansori Bahrudin Syah, Pengamat Sosial Universitas Nasional menyatakan, bahwa hoaks mulai marak beredar sekitar tahun 2008-2009 ketika banyak orang menggunakan banyak akun untuk kepentingannya sendiri.

Hoaks semakin merebak karena kurangnya akses verifikasi informasi yang benar sehingga berita yang disalurkan seringkali bersifat fiksi. Hoaks, kata dia, bisa dicegah oleh publik, utamanya kaum milenial dengan memfilter informasi yang mereka dapat.

“Nah, referensi bacaan merupakan cara kita bisa memilah informasi yang tepat. Hoaks yang tersebar lewat sosial media sangat merusak. Ujungnya bisa adu domba dan perpecahan. Garda terdepan menangkal hoaks sebetulnya ada pada kaum milenial khususnya mahasiswa,” ujar dia.

Sedangkan redaktur senior Harian Rakyat Merdeka, Abdul Shomad Kaffa menyoroti pejabat negara yang memberikan keterangan pers berbeda dengan keterangan di lapangan dan fakta yang ada. “Artinya, berita bohong atau hoaks bukanlah saja berasal dari masyarakat biasa saja. Pejabat negara juga berpotensi terjebak dalam menginformasikan berita bohong,” nilainya.

Selain itu, seringkali banyak pejabat negara yang ketika menyebarkan hoaks, tidak ditindak aparat hukum. Inilah yang menjadikan hukum penyebaran informasi hoaks masih abu-abu terhadap pejabat.

“Harus adil dalam penindakan. Siapapun pelakunya wajib diproses. Sebab, hoaks tidak boleh dilakukan oleh siapapun,” tegasnya.

Karenanya, dia mengingatkan, publik, terutama media harus berimbang ketika akan menyampaikan informasi. Sebab, dia melihat, seringkali publik terburu-buru membagikan berita kepada teman atau keluarga tanpa kecermatan atau kevalidan informasi.

Sementara itu, Tenaga Ahli Senior Dewan Pers, Heru Tjahjo menyebut, informasi apapun yang dikeluarkan menjadi tanggungjawab media masa. Seluruh level di media massa harus bisa melakukan mekanisme yang benar agar informasi yang dibuat jelas faktanya. Keberadaan kode etik jurnalistik harus bisa menjadi landasan keberadaan produk jurnalistik.

“Pengecekan adalah hal pertama yang harus dilakukan agar berita tersebut benar-benar bukan hoaks. Bijaklah bermedia sosial. Setiap berita harus bisa diverifikasi dengan sumber yang benar dan dapat dipercaya,” ungkapnya. (FMM)

Temukan kami di Google News.