Rusia Dulu & Sekarang Menurut Mahfud MD, Banyak Masjid & Nggak Serem Lagi

Inisiatifnews – Rusia, sudah jauh berubah. Negara yang dulu tertutup, kini lebih terbuka. Hal ini diungkapkan oleh Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD. Ia mengungkapkan pengalamannya mengunjungi negara dengan julukan Beruang Merah ini.

“Dulu saya, mungkin sekarang masih banyak di antara kita, punya bayangan, Rusia (pelanjut Uni Soviet) adalah negara komunis dengan rakyat miskin yang mencekam karena totaliterisme dan kesewenang-wenangan penguasa negara yang anti agama. Mungkin dulu dikesankan begitu, tapi sekarang saya melihat sendiri, Rusia itu beda,” kicau Prof. Mahfud MD dalam akun Twitter-nya @mohmahfudmd.

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui, Mahfud MD sebagai Ketua Paramparapraja bersama Ketua Kadinda DIY GKR Mangkubumi mendampingi Raja Yogyakarta Sri Sultan HB X berkunjung ke sejumlah negara federasi Rusia.

Pada, Selasa (30/07/2019) lalu, Ngarso Dhalem dan Mahfud MD diterima First Deputy Prime Minister Tatarstan, Rustam Nigmatullin, di kantor perdana menteri di Ibu Kota Kazan, Tatarstan, Rusia. Kunjungan Ngarso Dhalem hendak mempelajari keberhasilan Kazan, ibukota Tatarstan dalam melestarikan heritage dan mendapat penghargaan dari Unesco.

Kembali ke Mahfud, kata dia, Rusia kini bukan negara komunis. Sekarang, partai komunis hanya punya 12 persen wakil di Parlemen. Seperti menjadi oposan yang tak signifikan. Putin juga memimpin pemerintahan dengan partai koalisi yang bukan komunis.

“Tidak miskin juga, pendapatan perkapitanya USD 6000-an, lebih tinggi dari kita yang USD 4000-an,” cuit eks Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur ini.

Selain itu, tambah Mahfud, banyak tempat-tempat ibadah berdiri. Rusia juga dinilainya cukup terbuka dengan perbedaan.

“Selain Gereja di Rusia banyak juga Masjid yan bagus yang selalu terbuka bagi kaum muslimin untuk salat di sana. Di Kazan ada Masjid Kul Syarief, di Moscow ada Masjid Katedral. Agak aneh, katedral biasanya nama gereja besar tapi dijadikan nama masjid. Arti Masjid Katedral, kira-kira, Masjid Jamik,” cuitnya. “Seperti di Kazan, Masjid Katedral di Moscow dibangun atas dukungan Pemerintah Turki,” tandasnya.

Selain itu Mahfud juga mengaku nyaman beraktifitas di Moskow. Ibu Kota Rusia tersebut dinilainya anggun dan bersih seperti kota-kota besar lain di Eropa. “Kota Moskow termasuk anggun, bersih, enak ditelusuri, seperti kota besar lain di Eropa,” nilai Mahfud.

Rusia, kini juga terbuka untuk seluruh warga negara dunia. Banyak pelajar yang menimba ilmu di universitas-universitas ternama di berbagai kota republik federasi ini. Termasuk pelajar Indonesia, yang dulu tak berani menuntut ilmu di Rusia karena bisa-bisa dicap tengah belajar komunisme dan leninisme.

“Dulu, kita setengah tidak boleh atau tak berani melanjutkan studi di Rusia. Tapi sekarang ada ribuan mahasiswa Indonesia di sana. Menariknya, hampir semua mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberi beasiswa oleh Pemerintah Rusia,” tulis anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

“Kalau saya ketemu mahasiswa atau mahasiswi di sana mereka bangga menawari saya untuk mengantar ke Masjid, mungkin karena menurut mereka saya anak pesantren. Mahasiswi kita di sana banyak yang berhijab, bebas-bebas saja,” kicaunya lagi.

Oleh karenanya, kata Mahfud, salah besar jika masyarakat Indonesia masih berpikiran Rusia masih negara komunis yang tertutup dan menyeramkan.

“Dari perbincangan saya dengan Pak Rahmat Witoelar (mantan dubes di Moscow), Pak Wahid (dubes RI di Moscow) Pak Lasro Simbolon (Wadubes) dijelaskan: salahlah kita kalau menganggap Rusia itu (masih) komunis, totaliter, dan miskin. Cafe-cafe buka 24 jam, ramai dikunjungi orang dan tetap tertib,” cuitnya.

Cerita Mahfud disambut antusias warganet. Salah satunya akun resmi kantor berita Rusia Russia Beyond the Headlines @RBTHIndonesia.

“Bapak, padahal kami dulu mendirikan RUDN (Universitas Persahabatan Rakyat Rusia) untuk menyambut mahasiswa dari seluruh dunia menuntut ilmu di negeri kami,” cuit akun ini menimpali kicauan Mahfud soal banyaknya pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.

“Selamat datang di Rusia Prof @mohmahfudmd, kalau sempat silakan mampir ke Bolgar, masih di Tatarstan. Saya ke sana pada bulana Ramadan lalu,” tulis akun ini mengajak Mahfud.

Mahfud pun membalasnya. “Saya sudah dari Kazan, Tatarstan. Saya sudah kultwit juga tentang Masjid Kul Syarief. Coba dicek kultwit saya dua hari yang lalu. Sama atau tidak kesan kita?” tanya guru besar fakultas hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Akun @RBTHIndonesia pun langsung membalasnya. Ia mengapresiasi kedatangan ahli hukum tata negara ini ke negeri yang sekarang dipimpin oleh Vladmir Putin ini.

“Sudah dong Prof. @mohmahfudmd, saya sudah baca semua kultwit Bapak di Kazan, senang sekali Bapak bisa mampir ke Rusia. Semoga pengalaman di negara kami berkesan, Pak. Salam persahabatan dari Rusia untuk rakyat Indonesia.” (MMF)

Temukan kami di Google News.