Ekonom: Purbaya Lupa Dia Menteri Keuangan, bukan Menteri Keseluruhan

Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (18/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (18/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky melihat, Menteri Ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa memang ekonom yang melihat data-data pasar sebagai acuan. Ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan dan pandangan-pandangan Purbaya di media sebelum jadi menteri.

“Kalau saya sederhanakan nih, ini persepsi saya bukan soal mahzab, dia ini lebih percaya arus uang mengendalikan arus barang, jadi kalau kalau uang dialirkan ke sana nanti sana ramai,” kata Awalil kepada terusterang.id yang juga ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (18/09/2025).

Berarti, Awalil menuturkan, dari sisi ini, bukan hanya karena kebijakan Rp 200 triliun, tapi dari seluruh gayanya Purbaya tidak ingin merubah struktur. Purbaya hanya mencoba mengefisienkan seefisien mungkin, bukan sebagai game changer.

Walau ada upaya-upaya mengefisienkan, termasuk menurunkan, tapi bukan untuk membuat cost menjadi tiga yang sebenarnya sama saja dengan Sri Mulyani. Awalil mengomentari pula cara pandang orang yang kerap dihipnotis lewat istilah pertumbuhan ekonomi.

Seolah, lanjut Awalil, kalau pertumbuhan ekonomi itu tinggi berarti sudah baik. Padahal, ia menekankan, yang penting dulu pahami pertumbuhan ekonomi itu adalah membandingkan produksi barang dan jasa pada 1 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tanpa membedakan apakah itu senjata, beras, bawang putih, atau mobil mewah, enggak ada soal. Jadi, satu dia kontribusinya sama. Maka, pertumbuhan 5 persen nilainya ini bertambah persen, soal lain ternyata di persen itu senjatanya yang banyak, jadi serius bahwa ini masalah sendiri,” ujar Awalil.

Ia mengingatkan, dalam rangka memproduksi barang dan jasa ini ada konsumsi rumah tangga. Kalau dari sisi sektor, 17 sektor seperti sektor pertanian dan lain-lain, dan yang dimaksud Menteri Purbaya satu sisi dilihat sektor apa yang memproduksi.

Sedangkan, di sisi lain dipakai untuk apa atau oleh siapa. Konsumsi rumah tangga itu 50-55 persen, investasi sekitar 25 persen, dan pemerintah 10 persen. Awalil merasa, ini informasi lama yang sebenarnya sudah berlangsung belasan tahun.

“Apakah lalu ini membuat pemerintah tidak penting terhadap ini karena dia cuma 10 persen, nanti dulu. Pemerintah itu adalah regulator, pembuat kebijakan, dia 10 persen tapi dia bisa mempengaruhi yang 55 dan 25 ini, dari sisi itu kembali saya tidak melihat kebaruan dalam pernyataan itu, kalau begitu hopeless,” kata Awalil.

Soal Purbaya merasa yang penting bagaimana mempengaruhi masyarakat, ia menegaskan, itu bukan soal uang tapi lebih kepada kebijakan di sektor riil. Artinya, Awalil menegaskan, itu urusan Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, dan lain-lain.

“Loh, ini Bapak Menteri Keuangan ini mungkin lupa atau posisinya itu dia itu Menteri Keuangan bukan menteri keseluruhan, menteri keseluruhan itu Presiden. Dia bilang saya akan ciptakan 6-7 persen, loh kalau Prabowo boleh,” ujar Awalil.

Awalil menambahkan, cara mengelola ekonomi itu bukan dia hanya 10 persen. Walau dia tidak ikut langsung memproduksi, tetap bisa membuat aturan-aturan yang mempengaruhi terhadap konsumsi. Jadi, bagaimanapun, negara tetap penting dalam perekonomian ini.

“Belum ada kebaruan, pendapat saya ini lebih gimik media, hura-hura, itu tidak ada, Rp 200 itu akan ada manfaatnya, baik tapi ini tidak mengobati masalah, idenya juga bukan ide-ide yang genuine, yang terobosan tidak ada,” kata Awalil. (WS05)

Temukan kami di Google News.