Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Kabinet Bayangan, Iman Zanatul Haeri, mengkritisi argumentasi pemerintah soal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya soal MBG sebagai investasi dalam mengembangkan sumber daya manusia.
“Kita hampir menemukan banyak fakta tidak ada investasi yang bisa dikembangkan dari MBG dalam konteks sumber daya manusia. Karena, sebelum saya jadi Menteri Bayangan, saya memang bersaksi di MK dan saya bersama dengan Perhimpunan Pendidikan dan Guru bersama teman-teman organisasi profesi guru, kita menggugat MBG memang. Salah satu alasan dasarnya adalah soal SDM tadi,” kata Iman kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Kamis (30/07/2026).
Iman turut mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait itu di MK. Terutama, ketika perwakilan Presiden Prabowo mengajukan seorang ahli gizi yang menyatakan anak-anak penerima MBG meningkat efektivitas pembelajarannya, nutrisi otak, dan lain-lain.
“Pertanyaan kami sederhana, kalau memang seandainya MBG-nya benar-benar bergizi, bagaimana kita bisa melihat ada peningkatan pengetahuan, IQ, EQ, lalu peningkatan Human Capital Index, literasi mereka? Ternyata, untuk mencapai tujuan-tujuan MBG yang selama ini disebutkan tidak akan tercapai kalau pendidikan tidak dibenahi,” ujar Iman.
Artinya, ia mengingatkan, seperti yang sudah diketahui sebelumnya setelah anak-anak bernutrisi, mereka harus belajar terlebih dulu. Sehingga, tidak pernah ada bukti mereka yang sudah mengonsumsi MBG ujuk-ujuk langsung naik efektivitas belajarnya.
Sebab, lagi-lagi Iman menyampaikan, sekadar makan jelas tidak ada hubungannya dengan peningkatan kemampuan anak-anak. Karenanya, untuk meningkatkan sumber daya manusia tidak hanya dibutuhkan perut yang kenyang, tapi belajar yang berkualitas.
“Seperti pisau dengan besi yang bergizi, tapi kan harus diasah. Selama itu tidak diasah dengan pendidikan, maka tidak akan terjadi. Jadi, kami melihat argumentasi bahwa MBG ini meningkatkan SDM anak-anak kita, saya sangat sanksi sekali, kecuali SDM SPPG-nya ya, yang gajinya lebih besar daripada guru-guru honorer,” kata Iman.
Iman turut menyoroti pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah yang masih belum dibenahi. Mulai dari cara mereka membagikan makanan, bagaimana rebutan proyek terjadi, cara investasi yang kasar, kong kalikong antara pejabat, aparat, dan lain sebagainya.
Bahkan, ia menekankan, bukti sudah banyak terpaparkan sampai pucuk-pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri sudah menjadi tersangka korupsi besar proyek MBG. Sayangnya, kasus-kasus keracunan yang sudah terjadi saja masih belum diusut tuntas.
“Satu keracunan saja terjadi itu sebetulnya menandakan ada masalah sangat sistemik terhadap BGN. Jadi, bukan soal dapurnya dikurangi, sistemnya bagaimana karena sejak awal kami dari P2G tidak melihat bahwa MBG yang sekarang terjadi akan berkontribusi terhadap meningkatnya potensi sumber daya manusia. Itu yang terjadi,” ujar Iman.
Iman berpendapat, kasus keracunan yang menimpa murid-murid dan guru-guru merupakan tindakan kriminal yang sampai hari ini tidak ada satupun yang ditangkap. Hal itu dilihat Iman sebagai penanda kalau MBG ini merupakan malapetakan dunia pendidikan.
Maka itu, Iman sepakat atas analogi bus yang belakangan ini kerap kita dengar, termasuk untuk MBG. Yaitu, ketika kaca bus pecah, ban bolong, mesin hancur, tapi bus masih dipaksa berjalan yang akan kita lihat pada akhirnya hanya kehancuran.
“Kecuali dihentikan, masukkan bengkel, dan ketahui semuanya. Sekarang kita cuma tahu supirnya doang yang korupsi, bagaimana yang di bawah? Apalagi, dia memalak anggaran pendidikan yang seharusnya untuk anak sekolah, perbaikan infrastruktur. Jadi, saya tidak melihat harapan MBG ini punya kontribusi terhadap pendidikan,” kata Iman. (WS05)
