Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, membagikan pengalaman menjaga diri dari korupsi sepanjang hidupnya. Hal itu turut dipegang selama 24 tahun mengisi berbagai etalase pemerintahan di trias politica mulai dari eksekutif, yudikatif, bahkan legislatif.
“Kalau saudara tanya saya, saya profetik, saya masuk ke berbagai kekuasaan 24 tahun tidak ada masalah tuh, tidak punya kasus, saya menjaga, ini amanah, dan saya tidak pernah ikut kontestasi untuk mendapat jabatan, ikut kontestasi malah kalah, karena kontestasi pakai (uang) ini,” kata Mahfud saat mengisi Kuliah Perdana Magister dan Doktor di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (19/09/2026).
Mahfud menuturkan, dirinya menjadi Menteri Pertahanan karena tiba-tiba diangkat Presiden Gus Dur dan jadi Menkopolhukam tiba-tiba diangkat Presiden Jokowi. Kini, ia mengaku heran, banyak orang yang berebut, bahkan bayar untuk menjadi menteri.
Pun saat menjadi Anggota DPR RI yang kerap disebut butuh uang begitu banyak, Mahfud malah dicalonkan, diminta daerah-daerah untuk kampanye, dan terpilih. Terlebih, ia menyampaikan, saat dirinya menjadi Ketua MK yang tentu saja etikanya lebih tinggi.
“Tidak ada rebut-rebut sampai apa namanya, bayar, sampai teror orang, suruh orang, biasa saja, ada yang menawari, oke, pilih silakan, jadi, itu tergantung kita juga. Ada yang bilang begini, Pak Mahfud Anda ini kok sangat anti korupsi kok ya, apakah yakin Anda tidak pernah korupsi? Yakin! Saya menjabat 24 tahun, siapa yang pernah suap saya atau siapa yang uangnya pernah saya ambil, dari anggaran, tidak ada,” ujar Mahfud.
Mahfud membenarkan, selama menjabat menang ada saja orang yang menawarkan uang atau menawarkan bantuan yang jumlahnya miliaran. Bahkan, ia mengaku cukup sering dipaksa menerima, tapi tidak pernah diterima dan selalu ditolak selama dirinya menjabat.
“Kalau bapak paksa saya sedekahkan ke masyarakat tapi atas nama Anda, saya bangun gereja di Lempuyangan, saya yang bangun Rp 5 miliar, orang kasih bukan uang saya, catat saya tidak pernah terima uang sepeser pun dari Anda, karena gaji saya besar. Coba, 24 tahun saya di jakarta, yang 18 tahun jabatan penuh sebagai pejabat negara, sisanya pejabat pemerintah, menurut saya gajinya sudah besar, dan untuk apa juga,” kata Mahfud.
Sesudah tidak menjabat, Mahfud mengungkapkan, barulah datang teman-teman lama yang ingin menyumbang ini dan itu, misalnya ketika akan mantu. Ada pula yang kini datang saat hari raya, meminta izin untuk memberi karena selalu ditolak selama menjabat.
Tapi, ia menegaskan, sepanjang 24 tahun dirinya mengisi berbagai etalase pemerintah tidak pernah ada uang di luar gajinya sah yang diterima, apa pun alasannya. Mahfud mempersilakan siapa saja yang mungkin pernah mendengar cerita miring untuk muncul.
“Silakan kalau Anda kenal seseorang saya pernah bayar Pak Mahfud, uang saya pernah ditipu Pak Mahfud, muncul sekarang karena itu kadaluwarsanya 18 tahun kalau saya lakukan. Artinya, masih bisa dituntut sekarang kalau ada bukti. Oleh sebab itu, saya sekarang bicara anti korupsi berani saja kepada siapa pun, itu sikap moral,” ujar Mahfud.
Hari ini, ia menambahkan, dirinya masih selalu pilih-pilih ketika menerima undangan untuk bicara. Sebab, jika menerima undangan-undangan ke pondok pesantren, yayasan, atau sekolah sudah pasti dirinya tidak akan menerima uang, tapi malah sebaliknya.
Mahfud mengingatkan, 24 tahun menjabat berbagai posisi di etalase pemerintah cukup membuat dirinya membiaya diri, membeli tiket untuk mengisi undangan bicara. Mahfud menekankan, saat dirinya menerima undangan berarti bersedia membayar tiket sendiri.
“Saudara, moral itu yang penting, dan itu membuat ya kita tenang, tidak ketakutan, tidak usah bersembunyi 5 hari karena disebut KPK, itu berbahaya itu, kalau saya ayo ke KPK. Saya dulu katanya MK disuap saya datang ke KPK, periksa saya, saya datang ke Kapolri Sutarman, periksa, itu ada koran tulis katanya hakim MK disuap, periksa, harus izin Presiden, tidak usah, 3 orang, saya, Pak Harjono, Bu Maria, datang ke Kapolri, ini ada fitnah-fitnah begitu, tidak ada Pak, itu hoaks,” kata Mahfud. (WS05)
