Pidato Presiden Terus Jadi Sorotan, dari Ndasmu, Nye-Nye-Nye, sampai Emang Gue Pikirin

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Intelektual, Hamid Basyaib, menyoroti pidato-pidato Presiden Prabowo yang lebih sering disoroti karena gayanya dibanding substansinya. Belakangan, gaya penyajian dan gaya penyampaian Presiden Prabowo malah jadi semacam langgaran kontroversi.

“Muncul istilah yang kemudian viral seperti nye-nye-nye-nye gitu, lalu ndasmu gitu, satu terminologi yang sudah dia kemukakan, dia perkenalkan sejak masa kampanye 2024. Lalu, ada belakangan juga di dalam pidato trickle down itu, emang gua pikirin gitu-gitu, lalu ada minta di-delete di-delete dan sebagainya, semuanya jadi viral,” kata Hamid kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026).

Hamid mengaku, sejak awal sudah heran alasan Presiden Prabowo yang dipilih lewat Pemilu menyia-nyiakan forum kenegaraan yang begitu penting. Tempat dia sebenarnya bisa menyampaikan pesan-pesan kebangsaan atau pesan-pesan kenegaraan yang baik.

“Tapi, cukup banyak diselingi pernyataan-pernyataan yang tidak bermakna seperti itu, dengan sambil banyak guyon gitu. Saya tahu, tentu dalam katakan setengah jam atau 20 menit pidatonya, tentu dia tidak semata-mata guyonan semacam itu, tentu ada isinya juga gitu ya. Tapi, juga yang viral dan memang memakan waktu yang lumayan dalam 20 menit atau 30 menit itu, porsi untuk guyonannya cukup besar,” ujar Hamid.

Publik, lanjut Hamid, sampai sudah hafal setiap Presiden Prabowo memulai pidato, biasanya dia membully beberapa menteri yang ada di sana. Kemudian, diledek, disuruh berdiri, lalu Presiden Prabowo melempar guyonan-guyonan, dan ditutup tepuk tangan.

Memang, ia menekankan, humor-humor orang berkuasa atau orang-orang kaya biasanya harus disambut dengan tawa yang mungkin berlebihan, walaupun tidak terlalu lucu. Setelah itu, barulah pidato Presiden Prabowo mulai masuk ke substansi masalahnya.

“Biasanya, yang viral yang kemudian digemari oleh para penonton, terutama penonton mudanya, tentu saja bukan aspek serius dari pidatonya. Tapi, yang viral ini, yang iconic begini, ndasmu, nye-nye-nye-nye, emang gue pikirin, gemoy, dan sebagainya. Semuanya mungkin cukup menghibur, tapi hampir tidak ada artinya dalam konteks upaya pemajuan kita sebagai bangsa dari segi ekonomi dan sebagainya,” kata Hamid.

Hamid menduga, gaya pidato Presiden Prabowo cukup dipengaruhi penasihatnya untuk membalik citranya selama ini. Ia mengingatkan, citra Presiden Prabowo sebelumnya memang bukan sosok seperti Prabowo Subianto yang belakangan muncul di publik.

Prabowo, Hamid menyampaikan, lebih dikenal dengan citra keras, galak, emoasional, atau temperamental yang sering sekali ditampilkan di masa kampanye. Bahkan, sampai hari ini masih banyak yang menjadikan videonya memukul-mukul meja sebagai meme.

“Dia memukul-mukul meja sampai terguncang-guncang meja di panggung kampanye, ada satu masa ketika sampai Pak Amien Rais di kubu dia waktu itu, 2019, sampai datang menengahi, menyabarkan dia karena dia sudah semakin kelihatan tidak terkendali, memukul meja keras sekali. Itulah citra yang melekat pada Pak Prabowo selama ini,” ujar Hamid.

Pun di internal Angkatan Darat, Kopassus, bahkan interal pejabat-pejabat banyak sekali orang yang bisa bersaksi tentang itu. Banyak yang menyoroti perubahan citra Presiden Prabowo yang begitu temperamental menjadi kakek-kakek lucu di mata publik.

Malah, Hamid berpendapat, proporsinya cukup berlebihan, sehingga Prabowo cenderung meremehkan forum-forum pidato Presiden yang begitu berharga. Padahal, biasanya itu forum-forum yang sudah dipersiapkan susah payah dengan macam-macam pengamanannya.

“Kita sesalkan kenapa itu sering dipakai untuk menyatakan guyonan-guyonan yang semacam ini, yang mungkin 1 atau 2 kali terasa lucu, tapi kita sangat berharap supaya kebiasaan semacam ini tidak perlu diteruskan. Apalagi, kalau dikonfrontasi situasi negara kita yang masih banyak sekali masalah, dan beliau sebagai Presiden tentu sangat menyadari itu. Saya kira, tidak layak keseriusan masalah semacam itu disampaikan dengan cara-cara yang cenderung mengecilkan keseriusan masalahnya,” kata Hamid. (WS05)