Feri Amsari: Prof Mahfud Tidak Pernah Tidak Mendengar Pendapat Kita, Meski Itu Kritik

Dosen Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Feri Amsari, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (01/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Dosen Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Feri Amsari, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (01/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Dosen Universitas Andalas (Unand), Feri Amsari, mengaku selalu risih jika disebut sebagai sahabat dari sosok Mahfud MD. Ia mengungkapkan, ada hal-hal yang membuatnya mengagumi karakter Mahfud MD dan merasa relasinya lebih tepat sebagai guru-murid.

“Satu yang membuat kami merasa terhormat dan senang dengan Prof Mahfud, Prof Mahfud walau dia tidak setuju dengan kita, dia itu tidak pernah tidak mendengar pendapat kita, meskipun itu kritik,” kata Feri kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (01/08/2026).

Feri menyampaikan beberapa kejadian ketika dirinya dan teman-teman seperjuangannya berseberangan, bahkan harus menyampaikan kritik atas pandangan Mahfud MD. Namun, sikap yang ditampilkan Mahfud MD disebut tidak berubah dan tetap mendengarkan.

“Itu terasa, kita sebagai murid sadar diri, kita ini mungkin benar, tapi rasanya kok tidak santun, tapi harus kita sampaikan dan itu beberapa kali. Bahkan, ketika beliau jadi Menkopolhukam, kami bertiga (bersama Zainal Arifin Mochtar dan Bivitri Susanti) kompak tidak datang ketika Prof minta jadi tim itu karena ada peristiwa di Riau, kami tidak mau menyampaikan kepada Presiden karena ada pelanggaran HAM yang sedang terjadi, beliau tidak komen, tidak marah, sampai kami bingung,” ujar Feri.

Namun, ia menuturkan, ketika bertemu kembali setelah kejadian itu sikap Mahfud MD tidak berubah, sambutannya tetap hangat, dan selalu saja memberikan respons yang menyenangkan atas pandangan mereka. Baik diskusi maupun debat bisa ringan terjadi.

Bahkan, Feri menyebut, setiap datang ke kantor Mahfud MD untuk berdiskusi, tidak pernah kedatangannya tidak disambut dengan kuliner khas, Nasi Madura. Sikap santai Mahfud MD turut ditunjukkan atas keputusan mereka bertiga membuat film Dirty Vote.

“Itu yang mungkin timbul rasa segan, kagum, senang. Jadi, apapun orang mengatakan, kan pemilu kemarin tuduhan ke kami semua orang dekat Prof Mahfud, paling kasihan Mas Dandhy (Laksono). Kalau saya dituduh PKS, Bang Uceng PDIP, Mbak Bibip Nasdem, Mas Dandhy PKI, sudah partai lama, terlarang, kami minimal masih ada. Itulah, kami berjumpa dengan orang-orang seperti beliau, jadi pembelajaran dan menyenangkan,” kata Feri.

Feri mengku bersyukur, relasi itu terjaga sampai sekarang. Bahkan, ia menyatakan, posisi Mahfud MD sebagai guru kerap kali membuatnya menjadi penengah jika mereka yang disebut ‘murid-murid nakal’ ini sedang berbeda pandangan atau berseberangan.

“Kalau kami ribut pun sepertinya mengadunya ke Prof. Saya tahu Prof, yang senior-senior kalau sedang marah sama saya, pasti nyinggung-nyinggung ke Prof Mahfud, ini keterlaluan sih anak-anak. Tapi, Prof Mahfud juga tidak menunjukkan keberpihakan, itu yang membuat menyenangkan dan Prof Mahfud menikmatinya selama ini,” ujar Feri.

Dalam konteks akademis, ia menerangkan, semua mahasiswa politik-hukum tentu saja berhutang ilmu atau setidaknya pernah membaca Politik-Hukum karya Mahfud MD. Ada satu analogi Mahfud MD yang disebutnya selalu diingat pembelajar politik-hukum.

“Ada analogi yang kami suka dan selalu ingat soal rel dan lokomotif, harusnya hukum itu jadi rel, sementara politik itu lokomotif. Jadi, politik itu diarahkan oleh rel dan jangan sebaliknya, jangan politik rel, hukum yang kemudian diarahkan politik. Itu analogi yang menempel di kepala khas Prof Mahfud untuk menyederhanakan hal-hal yang rumit, karena waktu itu pasti lah beliau belum kenal kami,” kata Feri.

Feri turut mengagumi kesederhanaan yang selalu menjadi ciri khas Mahfud MD, tapi dalam konteks lebih luas tidak tepat pula dipadankan dengan sikap menyeleneh. Salah satu contohnya dilihat sendiri oleh Feri seperti pakaian-pakaian yang digunakannya.

Selain itu, ada satu peristiwa ketika Mahfud MD yang sudah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) jadi pembicara di acara Gubernur Sumatera Barat. Saat itu, Mahfud MD santai saja pindah tempat duduk tanpa marah ketika ada air bocor di atasnya.

“Memang santai betul. Saya tahu beberapa Ketua MK, hakim MK, selalu protokoler, wuing-wuing, tetot-tetot (voorijder) itu banyak sekali, Prof Mahfud itu mau ada tetot-tetot, tidak ada tetot-tetot, santai saja. Padahal, sudah jadi Ketua MK,” ujar Feri. (WS05)