Presiden Prabowo kembali menuai sorotan negatif usai menyebut mereka yang kritis kepadanya seperti wartawan, pengamat, dan LSM sebagai Londo Ireng. Pakar hukum tata negara, Mahfud MD menilai, itu menunjukkan Presiden Prabowo tidak menyukai kritik.
Padahal, ia menuturkan, selama ini Presiden Prabowo selalu menyatakan kalau negara ini demokrasi dan persilakan pemerintah dikritik. Tapi, sesudah itu selalu saja menghantam balik para pengkritiknya tanpa penjelasan-penjelasan yang substantif.
“Tapi, itu agak menyakitkan, karena Londo Ireng itu sejarah pengkhianatan terhadap perjuangan. Londo Ireng itu dulu dimaksudkan menunjuk orang yang bekerja untuk pemerintahan penjajah Belanda untuk menghancurkan perjuangan bangsa,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (28/07/2026).
Ia menerangkan, dari sejarah sebutan Londo Ireng dimulai ketika Perang Diponegoro 1825-1830. Kemudian, Belanda mendatangkan tentara dari Sulawesi Utara, Benjamin Sigar, untuk melumpuhkan Diponegoro yang selama 5 tahun tidak mampu ditaklukkan.
“Di situ orang Jawa menyebut Londo Ireng. Londo Ireng itu pengkhianat dan Benjamin setelah pulang ke Manado naik pangkat. Jadi, Londo Ireng itu adalah pengkhianat. Sedangkan, para jurnalis-jurnalis tadi adalah pengeritik yang sehat,” ujar Mahfud.
Mahfud sendiri pernah dituduh Londo Ireng oleh koruptor-koruptor dan malah disebut keturunan Amangkoro. Setelah Mahfud mencari di literatur, ditemukan kalau Amangkoro (Majang Koro) orang Bangkalan yang dikirim ke Aceh untuk menaklukan Teuku Umar.
“Apa yang terbetik di benak ketika Pak Prabowo menyebut jurnalis, dan sebagainya, dia sangat anti-kritik di dalam tindakannya, tapi ucapannya selalu bilang silakan kritik, ini negara demokrasi. Tapi, ketika ada orang kritik disebut Londo Ireng,” kata Mahfud.
Maka itu, ia berpendapat, apa yang disampaikan Presiden Prabowo bukan semata-mata ketidaktepatan atau kesalahan diksi, tapi menggambarkan lagi substansi keseriusan. Ketidaksukaan kepada kelompok terpelajar yang selama ini mengkritik pemerintah.
Bagi Mahfud, sebutan Londo Ireng sama saja Antek Asing yang selama ini disampaikan Presiden Prabowo. Padahal, ia mengingatkan, civil society yang selama ini memberi kritik membangun tidak pernah berhubungan dengan asing, tidak seperti pemerintah.
“Yang berhubungan dengan asing kan pemerintah, kalau kita mana tahu asing, didengar saja tidak sama orang-orang asing, apalagi berhubungan. Oleh sebab itu, itu sangat menyakitkan, sehingga pidato-pidato spontan tampaknya bergurau dari Pak Prabowo itu saya kira perlu dikritik lagi. Ini bukan Londo Ireng, ini orang yang cinta kepada bangsanya untuk meluruskan dan memberikan solusi, bukan hanya jelek, bukan hanya kritik, kalau kita selalu memberi solusi masa disebut Londo Ireng,” ujar Mahfud.
Mahfud memahami jika Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta Presiden Prabowo meminta maaf dan Dewan Pers menyebut tudingan Londo Ireng tidak berdasar. Sebab, ia merasa, sangat menyakitkan rasa cinta ke Tanah Air malah dianggap pengkhianatan.
Mahfud menekankan, sematan pengkhiat merupakan sesuatu yang sangat buruk, menuding sesama warga negara bekerja sama dengan asing untuk menghancurkan bangsa sendiri. Sementara, pemerintah satu-satunya yang bekerja sama dan bernegosiasi dengan asing.
“Semuanya mengaca diri dong, siapa sih yang bekerja sama dengan orang asing, siapa yang nego-nego dengan orang asing, kalau kita kan tidak. Tapi, kita tidak bilang mereka Londo Ireng, silakan saja, orang punya kebijakan karena memang secara konstitusional pemerintah, misal Pak Prabowo, tapi kita juga punya hak berbicara,” kata Mahfud. (WS05)
