‘Kalau Orang Kritis Dibungkam, Negara Akan Defisit dan Bangsa Bisa Runtuh’

Wakil Rektor UGM, Arie Sujito (tengah), dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (25/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Wakil Rektor UGM, Arie Sujito (tengah), dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (25/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Wakil Rektor UGM, Arie Sujito menilai, seorang akademisi memiliki tanggung jawab secara moral untuk berani mengatakan kenyataan yang jadi keresahan masyarakat. Sebab, ia mengingatkan, masyarakat selalu memiliki ekspektasi tinggi kepada kampus.

Ia merasa, di tengah keterbatasan kita harus bisa bertahan, dan intelektualitas jangan sampai digadaikan gara-gara keterbatasan itu. Salah satu yang sangat perlu diperjuangkan tidak lain kebebasan kampus atau akademisi untuk berpikir kritis.

“Kalau orang berpikir kritis dibungkam, negara ini akan defisit ke depan. Secara intelektual, kalau defisit bangsa ini bisa runtuh. Bisa bayangkan, kalau mahasiswa-mahasiswa tidak kritis melihat realitas,” kata Arie kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (25/07/2026).

Misalnya, ia melihat, ketergantungan Indonesia pada asing. Arie merasa, kemandirian kita tidak ada karena pengetahuan yang kita produksi ini cenderung kolonialis, kita tidak melakukan dekolonisasi karena cenderung mempraktekkan apa yang kita dapat.

Apalagi, kita tidak merekognisi pengetahuan-pengetahuan di tingkat masyarakat. Bagi Arie, ini bisa berakibat kita tidak akan pernah bisa menggapai cita-cita Indonesia Emas 2045. Karenanya, ia merasa, pembungkaman bisa menghancurkan masa depan bangsa.

“Maka, saya katakan bahwa kalau mahasiswa yang menyuarakan dengan berpikir kritis, kemudian direpresi, diteror, ini menghancurkan masa depan bangsa, masa depan bangsa dipertaruhkan. Kalau anak-anak itu ditakut-takuti Anda bisa bayangkan, mereka tidak akan punya kreativitas dan kecerdasan itu. Percuma dikasih fasilitasi teknologi dan sebagainya kalau pada saat yang sama dia dihambat nalar dia berpikir,” ujar Arie.

Arie menilai, kita bisa belajar dari negara-negara Eropa maupun Amerika, sekecil apapun idealisme itu harus dikembangkan di kampus. Sebab, kalau tidak percuma kita memiliki lab-lab, dibolehkan meriset, tapi saat mengkritisi tidak bisa disuarakan.

Arie menekankan, intelektual publik ini sangat dibutuhkan karena mereka yang bisa merespons kepentingan rakyat. Dalam Bahawa Jawa ada istilah ‘ngelmu iku kalakone kanthi laku’ yang bisa diartikan ilmu hanya bisa dikuasai melalui pengamalan.

“Dia mampu menjalani dalam Bahasa Indonesia, dia mampu menjalani dan dia dapat ilmu,” kata Arie.

Selain itu, Arie turut mengutip istilah yang sering disampaikan (alm) Arief Budiman tentang kesadaran berpikir. Arief menyatakan, orang kaya yang membela orang miskin itu bagus, tapi orang miskin yang punya kesadaran membela diri jauh lebih bagus.

Artinya, Arie menambahkan, sebenarnya bukan bantuan-bantuan yang kita perlukan, tapi kesadaran dia atas kondisi yang nyata. Kemudian, dari kesadaran itu muncul keinginan mengubah keadaan dan kesadaran itu yang seharusnya dilahirkan kampus.

“Kampus harus punya tanggung jawab soal itu. Saya ingat juga istilahnya dari Anhar Gonggong, dia cerita soal bukan hanya mencetak sebagai seorang intelektual, tapi intelektual yang tercerahkan, tercerahkan itu values yang kita jadikan pertaruhan,” ujar Arie. (WS05)