Dosen FEB UI, Dewi Meisari Haryanti mengingatkan, ada risiko-risiko yang harus dihindari dalam pelaksanaan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKPM). Antara lain soal investasi dan pengembangan sumber daya manusia yang belum terstruktur.
Kemudian, ia menekankan, baik untuk pengurus maupun manajer, perlu kurikulum pelatihan yang jelas. Pun risiko korupsi yang sangat besar. Dewi mengingatkan, korupsi itu bukan cuma masalah karakter, tapi karena ada masalah kesempatan.
“Misalnya, sudah tahu stok murah bakal datang hari ini, dimasukin, tahunya ada beberapa keluarganya, beberapa anaknya, disuruh belanja, istrinya disuruh belanja, habis barang. Atau ada pengurus yang culas, yang beli dia sendiri buat warung dia sendiri, misalnya,” kata Dewi kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (09/07/2026).
Akhirnya, ia mengingatkan, masyarakat lokal lain tidak akan kebagian barang untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, KDKMP yang harusnya menjadi alat untuk menurunkan biaya hidup masyarakat secara umum, malah jadi pemasok orang kaya lokal.
“Nanti orang kaya lokal ini jualan di warungnya dia sudah harga biasa lagi, sama saja, tidak jauh berbeda sama yang lain. Nah, itu kan risiko tuh, sehingga untuk risiko ini kalau menurut saya seharusnya tuh ada software accountingnya, POS-nya,” ujar Dewi.
Dewi menyampaikan, sejauh ini semua itu masih dilakukan secara manual. Padahal, ia menilai, kita tentu memiliki kepentingan untuk melakukan monitoring, mengetahui omset setiap hari, dan tidak mungkin selalu menanyakan ke orang-orang koperasi.
Seharusnya, Dewi menyarankan, dibuat satu aplikasi yang nantinya semua manajer dan pengurus bisa mengoperasikan untuk memasukkan data yang jadi materi tampilan setiap hari. Pun soal investasi yang perlu dipikirkan hindari penipuan terdemokratisasi.
“Ya ketiga saya cuma berharap didengarkan saja sudah, karena tidak tahu ya saya akademisi yang lainnya. Tapi, di FEB UI kami tidak merasa pernah ada undangan bahas kurikulum yang secara terstruktur karena kami dosen kooperasi tuh ada grup kan,” kata Dewi.
Artinya, ia menambahkan, ketika ada dosen-dosen koperasi yang diundang dalam rangka memberikan masukan sudah pasti mereka saling tahu. Sayang, Dewi menekankan, sampai saat ini dosen-dosen ini merasa belum pernah dilibatkan dalam penyusunan kurikulum.
“Saya, mungkin dari kampus lain, saya berharap ada yang diundang. Tapi, tim dosen koperasi FEB UI itu salah sedikit fakultas ekonomi yang masih mengajar koperasi, banyak kampus lain tidak mengajari, koperasi mata kuliah wajib fakultas di FEB UI,” ujar Dewi. (WS05)
